0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“There is no such thing as a child who hates to read; there are only children who have not found the right book.”
Frank Serafini

Sejak kecil saya paling suka membaca, tentunya membaca tentang yang fun fun saja isinya. Segala macam novel dan majalah akan saya baca sampai habis.

Saya dinina bobokan dan dibangunkan dengan majalah Bobo, Donald Duck, Asterix, serial lima sekawan, Malory towers dan segala macam buku zaman old .

Saking gemarnya membaca, papa saya selalu mengajak saya ke library, pada saat saya masih SD dulu. Walaupun tempatnya kecil, namun koleksinya lumayan lengkap, dan setiap minggu selalu ada setumpuk buku yang saya pinjam untuk menemani saya tidur.

Betul-betul terpatri di hati saya sampai sekarang, moment-moment kebersamaan saya dengan papa pada saat menuju library, dimana tangan yang sangat mempesona dan jari lentik ini menggenggam erat tangannya.
#Mempesona? #Lentik?
#Pletaaak!, siap-siap dilempar klompen (bakiak) Belanda.

Selama saya di Swiss, kecintaan saya terhadap buku tetap terbawa. Saya dan kedua sahabat saya, Michael dan Tilahum mempunyai banyak spot favorite untuk membaca.

Salah satu spot  favorite kami adalah Botanical Garden yang dimiliki oleh kampus tercinta kami, Universität Basel.

Memasuki taman ini, dalam sekejap saya bagaikan Alice in wonderland. Disaat saya melangkahkan kaki saya di antara pohon tropis, saya bisa mendengar suara burung yang bernyanyi.

Semakin saya melangkah masuk ke dalam, suara kepakan sayap kupu-kupu juga terdengar sayup-sayup di telinga saya. Agar lebih merasakan harmoni indah tersebut, kami  memejamkan mata, dan tanpa kami sadari kepala kami akan ikut menganguk kecil mengikuti irama alam yang indah.

Taman yang mempunyai beberapa rumah kaca ini selalu mengingatkan kami akan kampung halaman. Kami suka tertawa cekikikan, ketika kami melihat pohon pisang yang bertebaran, seperti di Indonesia dan kaktus yang melimpah seperti di Afrika, karena di taman ini kedua tumbuhan tersebut menjadi tumbuhan yang sakral dan bersejarah.

Semua tanaman juga diberikan nama dan pemberian namanya pun sangat lengkap mulai dari genus, species, family, bahkan sampai ke sub-family.

Taman ini mengingatkan saya dengan taman favorite saya sewaktu kuliah di London dulu,  yaitu Kew Garden. Kew Garden ini sangat besar dan mempunyai koleksi tumbuhan terlengkap di dunia.

Jika saya berjalan keluar Kew Garden, ratusan bulir-bulir keringat pasti sudah membasahi kening saya, karena saking besar dan luasnya taman tersebut. #lebay mode on

Bagi saya, Botanical Garden ini, merupakan versi mini dari Kew Garden. Suasananya sangat sepi sehingga disaat kami bertiga datang sebagai team rusuh, tidak ada yang merasa terganggu oleh kegaduhan kami.

Saat itu belum ada smartphone, sehingga kesyahduan kami saat membaca tidak terganggu dengan bunyi notification dan vibrate setiap saat.

Yang ada hanya stupid phone, karena saking besarnya, ketika jatuh malah lantainya yang rusak. Itu karena hpnya yang gorilla, jadi tidak butuh gorilla case. Tidak seperti sekarang, jika handphone jatuh kelantai, layar dan hatinya yang akan rusak.

Agar tidak emosi jiwa karena membawa buku yang berat, masing-masing dari kami membawa beberapa buku yang berbeda dan di sana kami akan saling tukaran membaca buku. Kami saling merekomendasikan buku favorite kami masing-masing.

Disaat kami sedang membaca, kadang ada nyamuk yang lewat. Bisa dibayangkan noraknya kami, karena jarang melihat nyamuk di Swiss, kami langsung melempar buku ke rumput dan berlarian mengejar kemana larinya mahkluk unik tersebut.

Kecintaan saya pada buku tetap berlanjut hingga sekarang. Setiap saya travelling bersama anak, saya membiarkan mereka untuk memilih salah satu buku favorite mereka untuk menemani perjalanan.

Pada awalnya Chloe selalu comment,”Oh Mama, you are like Belle Disney, you really like to read”. Namun, disaat Chloe sedang asyik membaca buku barunya pada bulan lalu, giliran saya yang comment, “Hello mini Belle ku sayang, bagaimana bukunya?”.

“Oh well, sometime I don’t have to  agree with their perspectives, but it does give me  an opportunity to understand them”, jawab Chloe sambil tetap melanjutkan membaca buku.

“Itu namanya empathy sayang”, jawab saya, sambil menahan tangisan haru yang tertahan di sudut mata dan tak kunjung turun ke pipi. #lebay maksimal mode on

Pepatah
Tahukah kamu, bahwa membaca buku selama dua jam sama dengan membaca buku selama 120 menit.

chloe bookcartoon book

Bagikan ini: