“I said : Man , money doesn’t buy happiness and he goes, no money does buy happiness , you just got to give it away. That’s the truth.”
Armando Christian Pérez a.k.a Pitbull – American rapper
Paul Drayton yang merupakan pendiri Ashoka adalah the father of social Entrepreneurship. Sebelum terjun ke dunia barunya, ia sudah memiliki karir yang mengesankan. Dengan sederet gelar sarjana dari top university ternama di Inggris dan America serta bekerja di top law firm lebih dari 10 tahun membuat perpaduan yang sempurna antara otak yang cemerlang dan pengalaman international.
Drayton juga orang yang pertama kali mengusulkan istilah changemaker sebagai satu kesatuan huruf dan tidak pisah didalam kamus. Menurut Drayton, changemaker adalah siapa saja yang melakukan hal yang kreatif untuk memecahkan masalah demi kebaikan dengan dampak yang lebih besar.
Perusahaannya, Ashoka berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ‘penolong’ mempunyai visi untuk mencapai perubahan positif melalui hidup berbasis empati untuk kesetaraan manusia hingga kelestarian lingkungan dalam pengentasan kemiskinan.
Di Indonesia, the mother of social entrepreneurship adalah ibu Ines Setiawan dengan Sustainability school-nya. Dedikasinya sangatlah besar dan sudah tak terhitung sudah berapa banyak yang terbantu oleh ketulusannya didalam membagi ilmu dan beliaulah sumber akarnya ilmu termasuk cheese making di Indonesia.
Beberapa bulan yang lalu saya sudah melakukan chat via pesan singkat akan ide saya yang terinspirasi dari Drayton dan Ibu Ines. Selain itu hati semakin tergerak karena peran saya sebagai mentor social entrepreuship di Eropa hingga America setahun terakhir ini diantaranya waste wise project di Italy.
Sore itu kembali berniat menghubungi ibu Ines mengenai ide untuk membantu yang lain,walau pun hanya langkah kecil. Sempat terbersit pikiran, jika negara lain bisa saya bantu, kenapa di negara sendiri saya belum berbuat apa-apa.
Setelah beberapa kali tertunda akhirnya bisa melakukan diskusi dengan Ibu Ines via telephone selama hampir dua jam. Beliau sangat membantu brainstorming ide raw yang saya jabarkan karena lebih berpengalaman dalam dunia social entrepreneurship dibandingkan saya yang masih hijau.
“Apakah di semua Ranch Market susu bubuk mbak Sarah sudah masuk?”
“Susu bubuk yang saya buat khusus untuk export ke Jepang, ibu. Tapi bisa saya kirimkan ke peserta sebagai bahan pelatihan dengan harga subsidi. Product saya yang available di Ranch dan Kem chicks adalah Dutch cultured butter.”
“Beberapa pertanyaan lagi, apakah mau pelatihannya diaplikasikan ke susu bubuk buatan mbak Sarah?”
“Kenapa susu bubuk karena saya posisinya bukan mau promosi product karena saya buat untuk export only, tapi tujuannya membantu yang ingin praktek pelatihan tapi susu cair susah didapatkan di daerahnya, bu.”

Keesokan paginya bu Ines mengirimkan pesan baru.
“Your powder milk can be turned into hard cheese. This is awesome.” Ibu Ines menerangkan secara singkat.
“Aku sampai lompat barusan saking bahagianya, bu.”
“Saya juga. Biasanya problem susu bubuk adalah curd nya hancur seperti bubur dan hanya bisa dibuat keju tabur atau mozza with a tweak. Ini bisa jadi solusi untuk banyak orang.”
Mendengar testimoni dari ibu Ines, saya langsung melayang hingga ke angkasa terutama karena kapasitasnya sebagai science teacher sehingga semua tentunya berdasarkan fakta di lapangan saat R&D.
Ada kehangatan yang mengalir dengan lembut didalam hati saat mengetahui bahwa powder milk buatan saya adalah yang pertama kali berhasil diolah menjadi hard cheese. Selama ini bahkan dengan menggunakan susu bubuk import, curdnya tidak bisa menyatu dengan sempurna sehingga hanya bisa dibuat soft cheese dan keju tabur.
Tak sia-sia usaha saya selama ini jungkir cartwheel koprol salto bolak balik ribuan jam praktek sebelum berani mengeluarkan product termasuk powder milk ini.
Akhirnya, ibu Ines berkenan untuk kolaborasi beberapa kelas pelatihan versi premium dan hasilnya akan digunakan untuk charity yaitu empowering para wanita hingga ke tingkat grassroot.
Saya sangat bahagia dan merasa tersanjung karena bisa sharing ‘panggung’ dengan guru saya di sesi kelas pelatihan nanti. Ibu Ines akan mengisi sesi yang merupakan expertisenya yaitu ‘how to master world class cheese at home’ dan expertise export akan saya aplikasikan untuk sesi ‘how to grow into a premium brand.’
Menjadi seorang changemaker sangatlah penting dan saya yakin kita semua bisa mencapainya dengan saling bahu membahu karena kita semua mempunyai satu kesamaan yang mendasar yaitu satu hati penuh cinta untuk Indonesia.
Terima kasih ibu Ines yang tak pernah henti menginspirasi saya.
“Helping one person might not change the whole world but it could change the world for one person.”
Unknown
May 28th, 2022


Trimakasih Mba Sarah buat sharingnya, menambah semangat untuk menjadi changemaker di lingkuangan tempat saya tinggal.
Sama-sama, mbak Sri. Senang tulisannya bisa memberi semangat. Take care,