0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Genuine kindness is the ultimate strength and when I see it, I always lean into that person.”

Gary Vee

 

Berada di hiruk pikuk jalanan pagi hari di Phnom Penh bagaikan melintas di kota Jakarta tahun 80-an. Walaupun kotanya kecil dan sederhana, tetapi tertata rapi. Gedung pencakar langit belum banyak walaupun sudah mulai terlihat pembangunan di beberapa sudut kota.

 

Suasana yang sungguh berbeda dengan Jakarta yang telah berubah menjadi kota metropolitan dengan di penuhi gedung pencakar langit layaknya hutan beton.

 

Dari dulu, setiap bulan saya  selalu janjian dengan mbak Ayu agar bisa pameran bersama, sharing satu booth atau booth yang saling berdekatan. Jadwalnya yang padat di Indonesia sehingga untuk bertemu harus mengejar ke seluruh penjuru bumi. Hong Kong, Tokyo, Manila, New York, Davao, dan sederet kota lain yang sudah tidak bisa dihitung dengan jari lagi.

 

Mbak Ayu kali ini menemani saya pameran pameran Export Import di Cambodia. Ia membawa barang display seadanya untuk pameran karena sebenarnya niat awal khusus ingin menemani dan mengajari saya.

 

Selain pameran, saya ke Cambodia untuk sourcing batu-batuan agar bisa dikombinasikan untuk desain jewelry tanduk saya berikutnya. Negara ini dari dulu sudah terkenal sebagai surganya batu bahkan ada beberapa jenis batu yang tidak ada di Indonesia.

 

Di hari pertama pembukaan pameran, Lia salah satu team saya yang ikut ke Phnom penh stand by di booth, sedangkan saya dan mbak Ayu keliling venue. Kami keliling ke beberapa booth dan ia dengan sigap sudah bisa tahu booth mana yang betul-betul penjual batu mulia dengan quality bagus dan mana penjual palugada alias apa lu mau gue ada.

 

Kami mampir di salah satu booth dan di mejanya terdapat bongkahan batu-batu yang masih raw dan sudah dipoles.

“Sarah, khusus ruby yang sudah dipoles, qualitynya bisa dilihat dari starnya.”

Starnya yang mana, Mbak? Tidak ada,” kening saya mulai berlipat seratus.

Raut mukanya terlihat serius sambil memasang kacamata lalu mulai memantulkan batu tersebut dibawah sinar lampu.

 

“Mana yah, Mbak,” kening saya kini berlipat seribu.

“Ah, itu yah, Mbak,” saya melompat dengan suara setengah berteriak. Mata saya pun bersinar dengan gemerlap, layaknya star di batu ruby. #kibas poni

 

“Besok pagi kita ke Central dan Russian Market sebelum ke venue. Nanti saya jelaskan lebih detail, Sarah.”

 

Keesokan paginya dari depan hotel kami naik taksi menuju ke Russian Market melewati Independence Monument berbentuk kelopak bunga teratai raksasa yang kuncupnya merekah. Bangunan berwarna coklat ini merupakan tugu peringatan kemerdekaan Cambodia dari penjajahan Perancis yang letaknya tidak jauh dari tempat kami pameran, yaitu di persimpangan Norodom Boulevard dan Sihanouk Boulevard.

 

Roda ban mobil yang kami tumpangi bergerak perlahan menuju selatan dan tak berapa lama kemudian tiba di Russian Market atau Psah Toul Tom Poung.  Sesampainya di sana kami mulai menyusuri pasar, melewati deretan toko-toko mulai dari barang antik, tenun sutra, kerajinan perak, hingga peralatan rumah tangga.

 

Pasar ini ini terlihat sempit dan berudara pengap, namun kami tetap menjelajah hingga akhirnya menemukan beberapa toko yang menjual batu. Ada banyak bongkahan batu dan mbak Ayu mulai menjelaskan perbedaan segala macam batu tersebut secara panjang lebar.

 

Di saat ia menerangkan, tidak hentinya saya mengucapkan rasa syukur di dalam hati karena ketulusan terpancar jelas dari wajahnya hingga membuat hati saya rasanya lumer bagaikan mentega yang dipanasi di atas wajan.

 

Saya tidak tahu bagaimana jadinya ilmu export saya jika tidak dimentor langsung oleh mbak Ayu. Mungkin saja saat ini saya masih tetap trial and error sehingga menjadi exporter handal hanyalah impian semata.

 

Mbak Ayu mengajarkan  menjadi seorang yang humble adalah sebuah pilihan. Walaupun ia sangat senior dalam dunia export dengan order puluhan kontainer setiap bulan, namun karakternya sangat down to earth. Jika ditanya oleh orang  yang baru kenal, kadang ia hanya menjawab dengan cuek, “Oh saya penjual kerupuk di pasar.”

 

Mbak Ayu,  I’m just so over the moon that we met when we did. Otherwise, maybe my life would have turned out very differently. Thank you for being such  a wonderful mentor and friend to me.

 

“Genuine people don’t come around too often. If you find somebody real enough to stay true, keep them close.”

Unknown

 

January 9th, 2019

More story about my life as a globetrotter:

Behind The Brand

 

Kindness

Bagikan ini: