0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“We can’t direct the wind, but we can adjust the sails. For maximum happiness, peace, and contentment, may we choose a positive attitude.”
Thomas S. Monson

Teringat kembali beberapa tahun yang sangat lampau, disaat pertama kali saya meninggalkan ibu pertiwi dengan tujuan menimba ilmu ke negeri orang, yah sekalian improve bahasa inggris dengan bapak pertiwi versi sana. #modus deh

Sebelum berangkat untuk melanjutkan S2, persiapan saya sangat lengkap seperti orang mau berangkat perang.

Student mendapatkan jatah 10 kg extra sehingga rice cooker dan alat catok rambut yang mirip setrikaan bisa melenggang dengan aman ke dalam koper saya.

Rambut saya dari dulu lumayan curly, mirip mie instant yang kelamaan direbus di dalam panci. #melar yang tidak jelas gitu deh.

Sepatu high heels 7 cm juga sudah saya pesan khusus jauh-jauh hari sebelum berangkat. Kaki saya termasuk ukuran imut-imut sehingga pada saat saya pindah keluar negeri, ukuran tersebut ternyata banyak membawa berkah.

Di saat boxing day (big sale day di Inggris), sepatu untuk wanita dengan ukuran kaki no. 5 dan no. 6 cepat habis pada saat big sale, sedangkan sepatu ukuran kaki no. 3 seperti kaki mungil saya akan tetap ada disana.

Ibarat sepatu kaca menunggu kehadiran Cinderella #tsaaaah

Saya sering menunggu salenya sampai 80 persen di akhir bulan January. Bahkan jika saya sabar menunggu, akhirnya pada bulan February pindah ke factory outletnya.

Disana harganya betul-betul sangat menggoda jiwa sekuat apapun itu. Sepasang sepatu Mango, Zara, atau Next bisa seharga sepiring Yorkshire Pudding. Wanita akan dibuat tak berdaya dengan offer tersebut.

Di Leeds saya sangat dekat dengan kesebelas sahabat Saya dari Taiwan terutama ketiga house mate saya .Namun yang paling rajin shopping dan kuat jalan ke segala penjuru UK untuk mengejar sale-sale adalah Rinko atau biasa saya panggil Rinko mum.

Di tengah dinginnya salju yang menusuk sampai ke tulang, kami tetap tegar berjalan menapakkan kaki kami yang lincah menuju shopping centre. Hati tetap hangat walaupun dinginnya salju di telapak kaki kadang bisa dirasakan di balik stocking tebal yang membungkus jemari kaki mungil saya. #eaaaaaa

Pada saat itu kami berjalan kecil menuju city centre karena bus memang jarang sekali yang beroperasi pada jam 4 subuh. Tidak hentinya kami tertawa dan saling bertukar jokes, tanpa peduli kalau bibir kami ngilu dan hidung pun tersumbat karena menembus dinginnya subuh.

Yang paling sering tertawa cekikikan adalah saya. Sampai Rinko mum comment, “wah, kamu hobby sekali ketawa ya?”, dan saya menjawab dengan tersipu malu“iya, kata teman Indonesia saya ,Reindhy, saya lahirnya di tengah hutan marijuana, makanya ketawa terus, jarang sedih ”.

Rinko mum langsung menambahkan, “iya yah, kamu senyum pun lebar sekali, pakai semua 32 gigi kamu ”. #langsung ambil kaca #makjleb#langsung belajar bagaimana cara senyum dikulum

Teman Indonesia saya ada juga yang sangat suka shopping, sekuat Rinko mum. Dua diantaranya adalah Alvi Lavigne dan Nuke Siregar, mereka merupakan kelas berat dalam dunia pershoppingan. Wah, kami adalah para wanita perkasa disaat menenteng barbel (barbel: barang belanjaan).

Ibarat David Beckham, kami harus mencari di mana posisi bola . Apakah ada di Timur atau di Barat daya posisi barang incaran kami. Ilmu SD jaman old, pada saat menghafal mata angin ternyata bisa saya aplikasikan dalam hal mengetahui posisi pasti letak barang yang saya incar.

Saya ingat sekali lagunya, sambil di iringi musik ampar-ampar pisang dan lenggokan tangan keatas kebawah mengikuti iramanya yang riang gembira. Arah angin yang lebih lengkap sebenarnya lebih dari itu dan sangat berguna disaat saya sebagai solo traveller.

Timur, Tenggaraaaaa
Selatan, Barat Dayaaaa
Barat, Barat Lauuuuut
Utara, Timur Lauuuuut
*singing out loud*

Memang perlu diakui,tingginya persaingan dapat dirasakan ketika berebut barang yang sama disaat sedang sale. Tidak hanya kecekatan dan tahu posisi barang, tetapi kesabaran juga akan diuji. Jika ukuran atau warna yang kami mau tidak ada, kami harus mengejar sampai ke kota lain.

Pemberi semangat adalah comment dari salah satu teman saya. Kata Alvi Lavigne, “Ah York Leeds sih dekat, hanya satu jam perjalanan. Lebih lama dari Kebon Jeruk ke Kuningan pas lagi macet”.
#tepuk jidat #setuju #logis juga sih.

Jika tidak berhasil memboyong barang idaman, tetap menikmati cekikikan bersama, moment adu otot tarik tarikan barang dengan yang lain.

Walaupun kaki terinjak saking ramainya tapi tetap berusaha menyelinap dan meliuk liuk gesit di antara keramaian para bule yang berbadan besar untuk mendapatkan barang pujaan yang sudah di incar sebelumnya.

Di saat sale-sale itulah, saya juga belajar tentang stock opname di setiap cabang. “Oh, di cabang York warna merah habis, tetapi warna kuning disana masih ada”.

Tali pertemanan kami selama di Leeds pun semakin solid karena boxing day. Terima kasih boxing day karena telah mengajarkan pada saya arti kebahagian yang sebenarnya.

Ternyata kebahagian itu tidak selalu diukur dari apa yang kita dapatkan, tapi proses perjuangan dan dengan siapa kita mengalami perjuangan suka duka tersebut ,disitulah kebahagian yang hierarki. #eaaaaa

Seperti kata pepatah
“Perasaan bahagia yang terindah itu tidak berupa materi , kebahagian itu jika bisa makan sepuasnya tapi tetap kurus

sarah beekmans

Bagikan ini: