0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“A woman is like a tea bag – you can’t tell how strong she is until you put her in hot water.”

Eleanor Roosevelt

 

Pesawat yang membawa saya dan Mbak Yovie akhirnya mendarat juga di Hongkong airport. Derai hujan yang mengiringi gelapnya malam pada saat kami meninggalkan Indonesia, kini telah berganti pagi dengan hamparan biru langit dan sinar cahaya mentari yang sedang menyeruak ke permukaan bumi.

 

Cahaya yang masih temaram, tapi riuhnya airport tidak menunjukkan kalau mentari baru saja muncul dengan malu-malu dari peraduannya. Kami lalu bergegas keluar dari badan pesawat dan berjalan agak cepat menuju imigrasi.

 

Dari kejauhan antrian sudah terlihat sangat panjang dan mengular, tapi pelayanannya sangat cepat, bisa kami lihat dari ketangkasan mereka dalam memeriksa passport. Mereka cukup membandingkan wajah rupawan kami dengan wajah kurang rupawan di passport, lalu finger print and off you go.

 

Meskipun mata agak merah dan bengkak karena kurang tidur, kami tetap terlihat sumringah dan saling melempar senyum, karena akhirnya bisa mengikuti pameran Hongkong Gift Show. Hongkong Gift Show adalah salah satu pameran impian kami, karena pameran tersebut merupakan salah satu pameran b2b terbesar di dunia untuk kategori gift.

 

Tak sabar rasanya ingin langsung menjelajah hutan beton yang selalu dinobatkan sebagai salah satu kota termahal di dunia ini.

 

Kami menaiki bus yang melaju menuju Causeway Bay, dan menyusuri Kingston Street sambil menggeret koper berukuran besar dan berat. Tubuh mungil kami harus menggeret 6 koper sekaligus, karena masing-masing dari kami membawa 2 koper besar dan 1 koper kecil.

 

Jalanan di Hongkong dipenuhi dengan jalanan berkelok dan memiliki gedung-gedung tinggi pencakar langit, itu membuat kami seperti terjebak di sebuah labirin.

 

Akhirnya kami tiba di apartement dengan nafas terpenggal-penggal kelelahan dan jari di tangan serasa mau lepas semua karena beban dari semua koper.

 

Namun, kami harus kembali berjuang membawa koper-koper tersebut ke tempat pameran sore harinya melewati jembatan menuju MTR, serta turun naik lift, tangga, hingga eskalator yang seakan tak ada habisnya.

 

Untuk menghemat budget kami memilih tinggal di apartement yang harganya terjangkau, sehingga tidak heran jika kami mendapatkan kamar yang memang sangat kecil. Semua koper kami tidak muat sehingga sebagian kami titipkan di luar kamar.

 

Kamar yang sangat kecil tersebut hanya memiliki single bed yang memiliki lebar ukuran sekitar 70 cm. Saat tidur, kami hanya bisa dengan satu gaya melurus dan jika kurang hati-hati, disaat balik badan, salah satu dari kami pasti akan jatuh kelantai. Di saat bangun tidur, bukan badan segar yang dirasa tetapi badan pegal seperti habis dipukul.

 

Kamar mandinya juga sangat kecil. Di saat ingin masuk ke dalam, badan langsung bergesekkan dengan pintu yang ingin ditutup dan kaki pun harus naik sedikit ke atas toilet seat agar jari kaki bisa agak salto sedikit.

 

Karena sangat sempit, saya juga jadi bingung ketika saya ingin sholat. Akhirnya saya memutuskan untuk sholat di atas tempat tidur. Agar tidak jatuh dan tumbang di tengah sholat, pada saat sujud pun, harus butuh keseimbangan dan fokus tingkat tinggi, karena arah kiblatnya yang agak menyerong.

 

Disaat kami menyantap mie instant, kami cukup memejamkan mata, dan menikmati aroma masakan yang cukup menyengat dari restaurant Padang, yang berada disebelah apartment kami. Mie instant yang kami buat pun, seakan gulai wonton yang menggabungkan antara mie kuah ala wonton noodle dengan potongan daging sapi khas gulai padang.

 

 

Tiba-tiba setitik air mata jatuh. Saya tidak tahu, apakah karena merasakan pedasnya mie instant ala gulai wonton yang kami bayangkan atau merasakan hati yang teraduk terharu biru. Saya pun langsung menyadari, air mata yang jatuh ini adalah air mata bahagia, karena kami mampu melewati rasa lelah dan hati yang tercabik di Negeri Beton ini.

 

Walaupun tulang seakan mau berhamburan karena capek, dan banyaknya hantaman dari rasa sakit yang mendera, hal tersebut makin mengasah mental kami dan tetap mencoba menapaki hidup walaupun masalah yang menerjang tak ada hentinya.

 

Saya sadari, wanita yang kuat bukanlah wanita yang tidak pernah menitikkan air mata, tetapi wanita kuat adalah wanita yang bisa menghapus air matanya sendiri.

 

Moment ini walaupun telah lebih dari lima tahun berlalu, membuat saya menyadari bahwa wanita adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan kelemah lembutannya tapi bukan berarti diselimuti oleh kelemahannya, karena sering kali potensi dan kekuatan terbaik itu baru bisa di temukan dalam keadaan terdesak.

 

January, 10th, 2018

 

life is though

Bagikan ini: