0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Don’t wait for people to be friendly, show them how.”

Unknown

 

Di balik suasana gloomy kota Leeds di musim gugur saat itu, kota ini selalu memancarkan kehangatan warga yang tak ada taranya.

 

Penduduk di daerah North terkenal lebih ramah dibandingkan daerah lainnya. Setiap bertemu akan selalu banyak wajah sumringah sambil menganguk memberi salam.

 

Kata ‘love’ digunakan sebagai kata ganti orang yang sedang diajak bicara. “Are you alright, Love?” adalah sapaan sehari-hari yang sering terdengar di tengah ingar bingarnya denyut kota Leeds.

 

Pertama kali ke Leeds saya agak bingung karena mereka mengucapkan, “Ta Love,” setiap kali mereka ingin mengucapkan terima kasih. Ternyata ‘ta’ itu singkatan dari thank you, tapi mereka mengucapkan ibarat baby yang masih cadel berkata “thanks” sehingga ucapannya belum jelas.

 

Selain tinggal di Blandford Grove bersama housemates yang dari Taiwan, saya juga sempat tinggal di Cromer Terrace. Lokasinya sangat strategis karena tepat berada di tengah lingkungan kampus.

 

Letak rumah berseberangan dengan gedung Leeds University Union yang  mewadahi segala aktivitas para mahasiswanya sehingga selalu ramai sampai larut malam.

 

Rumah berukuran sangat besar tersebut merupakan bangunan tua bergaya Eropa klasik dengan tiga lantai. Setiap lantai terdapat kamar yang lebih cocok disebut apartemen karena setiap kamar memiliki kamar tidur dan dapur kecil.

 

Apartemen saya berukuran paling besar karena memiliki dua kamar tidur dan terdapat di lantai paling atas. Pemandangannya sangat asri karena menghadap ke gedung Leeds University union dan jejeran pepohonan besar yang rindang.

 

Stephen adalah pemilik sekaligus landlord saya. Pria berusia lebih dari 80 tahun ini berasal dari Polandia. Walaupun rambutnya sudah memutih semua, namun ia masih bisa menyetir mobil sendiri. Ia tinggal di daerah hyde park, sekitar 15 menit berkendara dengan mobil ke Cromer Terrace.

 

Di rumah besar milik Stephen ada 4 kamar apartemen yang bisa ditempati, selebihnya pintunya tertutup rapat karena dipenuhi barang-barang pribadinya sehingga tidak disewakan.

 

Saya didapuk sebagai asisten Stephen. Setiap awal bulan para penghuni apartemen yang semuanya mahasiswa Indonesia lebih sering menyerahkan uang sewa mereka kepada saya. Terkadang mereka menyerahkan langsung kepada Stephen, tetapi lambat laun semuanya menitipkan uang sewa beserta tagihan listrik kepada saya untuk kemudian saya berikan kepada Stephen.

 

Teman-teman Indonesia saya suka bercanda bahwa saya adalah anak angkatnya Stephen karena di balik sifatnya yang rewel dan suka berkeluh kesah tanpa alasan yang jelas, dia memang sangat baik terhadap saya.

 

Seiring waktu, sikapnya pun memang seperti menganggap saya sebagai anaknya. Seluruh housemate saya pun menyadari dan kadang mereka pun memanggil saya ibu indekosnya anak-anak walaupun saya yang termuda saat itu.

 

Saat Stephen datang, ia cukup berteriak dari bawah memanggil nama saya dan saya langsung berlari kecil menuruni anak tangga. Kadang ia suka bernyanyi sendiri dengan suara tenornya yang jernih dan melengking tinggi yang mengingatkan saya dengan Mr. Pavarotti, namun ini bukan versi Italy melainkan Polandia.

 

Sore itu, saat ia datang dan berteriak, “Sarahhhhhh,” saya lalu berlari turun menyambut kedatangannya dengan senyum ciri khas 32 gigi saya.

 

“Kenapa kamu selalu tersenyum? Apakah semua orang Indonesia seperti itu?” Stephen berkata dan raut wajahnya yang saat awal datang dengan mimik serius dan bibir cemberut berubah menjadi senyum merekah dan penuh canda.

 

Yes, Stephen. Itulah yang selalu saya rindukan dari Indonesia. Walaupun penduduk di North ini jauh lebih ramah dibandingkan penduduk di London misalnya, tetapi tidak ada yang mengalahkan keramahan orang Indonesia. Kita mudah tersenyum ketika menyapa siapa saja, bahkan kepada strangers.”

 

“Oh ya? Seperti apa contohnya?” Stephen bertanya dengan pandangan menyelidik.

 

“Ah, saya rindu suasana diajak mengobrol random oleh ibu-ibu yang duduk di samping saya jika kami naik kendaraan umum seperti di kereta. Semua sapaan diawali dengan senyuman di sana. Kamu pun sekarang jauh lebih sering tersenyum dibandingkan pertama kali saya pindah ke rumah ini.”

 

“Yes, virus ramah tamah orang Indonesia di rumah ini are so contagious.” Stephen berkata sambil menyunggingkan senyum. Senyum itu kini semakin sering muncul di wajahnya sejak mengenal kami.

 

Kini, belasan tahun telah berlalu, senyum penuh keramahan yang merupakan warisan budaya Indonesia, terutama di kota besar sudah memudar, tetapi bukan berarti hilang. Saya, kamu, kita semua bisa melestarikannya.

 

“If you see someone without a smile, give them one of yours.”

Unknown

October 18th, 2018

 

Bagikan ini: