0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

Merek alas kaki dari Kanada, Native Shoes, telah merilis sneaker unisex yang seluruhnya terbuat dari bahan ramah lingkungan diantaranya termasuk dari bahan kayu putih, kulit nanas dan susu hevea kering.

 

Dalam upaya untuk menawarkan kepada konsumen alas kaki yang berkualitas tinggi dan tanpa limbah, mereka telah merancang sepatu yang terdiri dari komponen tanaman berupa kompos dan bebas dari produk hewani.

native shoes

Native Shoes Mengurangi Limbah Sepatu di Dunia

Di Amerika Serikat sendiri, para penduduknya membuang setidaknya 300 juta pasang sepatu setiap tahun, dan sebagian besar berakhir di tempat pembuangan sampah. Sepatu kets adalah biang kerok limbah terburuk, sebagian besar terbuat dari plastik atau bahan yang diolah secara kimia yang membuatnya tidak mungkin terurai.

 

Menggunakan bahan-bahan alami seperti katun organik, linen, minyak zaitun, dan gabus berarti berarti melindungi bumi terhadap kerusakan dalam waktu yang relatif singkat.

 

Bagian luar dari sneaker tersebut terbuat dari lateks alami lactae hevea – zat yang dihasilkan dari pohon karet. Material ini tidak mengandung katalis petrokimia yang biasanya ditemukan dalam bahan karet lain yang diiklankan sebagai bahan alami.

 

Setelah sepatu kets telah mencapai akhir hidup mereka, konsumen dapat menempatkannya di tempat sampah hijau di mana bahan akan terurai lebih cepat melalui proses pengomposan.

 

Semua hal ini berkat kemampuan lateks terurai oleh mikro-organisme yang secara alami direplikasi dalam lingkungan kompos. Bagian tengah sepatu dibuat dari kombinasi gabus 90 persen dan sisanya 10 persen, berasal dari  tanaman agave Meksiko yang dibudidayakan untuk produksi serat. Bagian sol dalam dibentuk dari jagung dan kenaf, tanaman berserat asli Afrika timur-tengah.

 

Eucalyptus atau kayu putih digunakan untuk membuat dasar sepatu, sedangkan linen organik digunakan untuk bahan kausnya. Bagian atas terdiri dari terbuat dari campuran kulit nanas dan kapas organik. Ini tidak termasuk lapisan poliuretan – industri pertama untuk jenis bahan ini, kata merek tersebut.

 

Masing-masing bahan ini diikat bersama-sama menggunakan benang rami yang direndam dengan minyak zaitun dan lem berbasis lateks alami, sementara sneaker itu sendiri dijalin dengan 100% tali kapas organik. Merek ini ingin menciptakan siluet yang tidak lekang oleh waktu dan dua area tersulit yang harus dipecahkan adalah sol dan ikatan mekanis antara sol atas dan bawah,” kata Native Shoes.

 

“Kami tahu bahwa lateks hevea murni tanpa aditif dapat menjadi satu-satunya solusi untuk sol, dan kami perlu menjahit bagian atas sol dan midsole secara bersamaan, sehingga mengerjakan bahan dan teknik konstruksi itu akan memungkinkan kita untuk mencapai itu, “tambahnya.

native shoes

Plant Shoe dari Native Shoes

Plant Shoe terinspirasi oleh misi Native Shoes untuk menjadi 100 persen ramah lingkungan pada tahun 2023, dan hal ini merupakan produk dari dua tahun penelitian ekstensif dan pengujian material.

 

“Langkah selanjutnya di luar inisiatif daur ulang kami saat ini adalah menciptakan sesuatu yang tidak perlu digunakan kembali atau didaur ulang, tetapi menghasilkan nol limbah,” kata perusahaan. “Sesuatu yang lahir dari bumi dan bisa kembali ke dalamnya.”

“Desain yang menarik ini membuka pintu bagi inovasi berkelanjutan saat kami bergerak menuju tujuan kami dan menata kembali penawaran produk untuk masa depan,” tambahnya.

 

Native Shoes bukan satu-satunya merek yang memperjuangkan bahan vegan didalam pembuatan sepatu. Dengan menggunakan bahan-bahan serupa, label fesyen Hugo Boss meluncurkan serangkaian sepatu pria vegan awal tahun ini yang terbuat dari bahan alami Piñatex yang terdiri dari serat daun nanas. Begitu juga dengan perancang busana Stella McCartney berkolaborasi dengan Adidas untuk merancang sepatu vegan klasik Stan Smith Shoe.

 

native shoes

Bagikan ini: