0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“People cry not because they’re weak, it’s because they’ve been strong for too long.”

Johnny Depp

 

Lembayung pagi berubah menjadi kelam siang itu oleh Typhoon Wipha yang membawa hujan lebat disertai angin kencang yang tak henti berderu dan gelombang laut yang menjulang tinggi. Dahsyatnya typhoon yang menyapa sejak pagi masih terasa walaupun sudah tidak seriuh sebelumnya.

 

Sepanjang perjalanan kami tak berhenti berdoa agar pesawat delayed. Roda taksi akhirnya berhenti berputar tepat di terminal keberangkatan. Saya pun menyerahkan dua lembar uang 100 MOP. Meski di argometer hanya tertera 90 MOP, kelebihanya adalah sebagai tanda terima kasih karena rela mengantarkan kami ditengah badai yang menerjang.

 

Sang sopir taksi juga mengikhlaskan mobilnya dijejali oleh 7 koper beraneka ukuran, tidak hanya di bagasi. Saking sesaknya, Sophie pindah dari bangku depan dan duduk di pangkuan saya diantara jejalan koper lainnya.

 

Mbak Patsy pun rela duduk terhimpit dan Chloe harus merelakan posisinya setengah jongkok karena kursi sudah tidak muat lagi. Jika tak ada typhoon, kami tentunya menggunakan dua taksi. Beruntungnya supir tersebut memaklumi karena mempunyai rasa emphaty yang tinggi.

 

 

Seteleh turun, kami berlari sekencang mungkin menuju check in desk Philiphine airlines, tapi ternyata sudah tutup. Saya lalu menghampiri salah satu staff airport dengan nafas yang masih terpenggal-penggal dan ia memberitahu bahwa pesawat baru saja take off.

 

Kami terheran karena semua pesawat yang lain delayed. Perjalanan untuk mampir ke Manila akhirnya batal dan tiket dinyatakan hangus. Saya mencoba mencari pesawat lain, namun hanya bisa mendapatkan pesawat yang berangkat keesokan paginya.

 

Mbak Patsy sudah mendapatkan tiket yang akan berangkat malam itu, tapi akhirnya dia berlari ke ticket desk untuk mengganti keberangkatan ke hari berikutnya. Chloe dan Sophie langsung melonjak bahagia dan memeluk erat Mbak Patsy.

 

Saya ikut memeluk Mbak Patsy sambil berbisik mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatinya karena rela menemani kami bertiga terdampar di dalam badai yang mencekam.

 

Terlihat di sekeliling sudah banyak yang tidur di kursi, bahkan di lantai keramik yang keras dan dingin. Hal tersebut bisa dimaklumi, hotel terdekat hanyalah hotel bintang 5 yang harganya semakin tidak masuk akal karena permintaan naik.

 

Saya lalu ke lantai bawah untuk melihat apakah ada taksi yang bisa mengantar ke hotel terdekat karena typhoon masih di level yang belum aman.

 

Ketika saya keluar, antrian taksi sangat panjang dan itu pun menanti taksi yang tak tahu kapan tiba karena hampir semua taksi tidak beroperasi. Terlihat raut muka pucat pasi para calon penumpang. Terpaan anginnya bertiup kencang seakan melumat tulang dan mampu membuat gigi saya gemertak.

 

Saya berjalan dengan terseok-seok saking lunglainya sambil kembali ke lantai atas dan menghampiri meja informasi. Di sana saya disarankan untuk menyewa limousine karena untuk jarak dekat mereka masih beroperasi, namun diingatkan kalau harganya akan berkali lipat dari taksi normal.

 

Saya memesan hotel melalui internet, lalu kami semua menuju counter limousine. Angin tak berhenti berhembus, saking kencangnya hingga menimbulkan suara layaknya deru mesin pesawat Boeing yang sedang dipacu.

 

“Anginnya kencang sekali, takut terbang terbawa angin ini, Mbak,” kata Mbak Patsy sambil membimbing Chloe dan Sophie untuk bergegas masuk ke dalam limo. Saya masih bertahan di luar membantu driver memasukkan semua koper lalu bergegas masuk.

 

Chloe dan Sophie bersandar di bahu saya tanpa ada kata, namun saya bisa merasakan mereka telah lelah, baik raga maupun batin. Air mata terlihat menetes dari sudut mata Chloe namun berusaha ditahan lajunya.

 

“Chloe, it’s okay to cry, Sayang.” Chloe akhirnya membiarkan air matanya pecah dan bersimbah membasahi pipi yang nampak kemerahan karena menahan rasa sedih, takut, dan lelah yang sedari tadi membuncah didalam dada.

 

Saya mencoba melemparkan canda agar tidak ikut menangis terbawa suasana, “Ada meme lucu, katanya uang memang bukan segalanya, tapi lebih nyaman menangis di dalam limo daripada menangis didalam bajaj. Itu kita alami ya sekarang.”

 

Pertahanan saya goyah juga, air mata mulai mengoyak dan berjatuhan dari sudut mata. Walaupun cobaan datang mendera, tak ada murka membelenggu saat saya akhirnya bisa membiarkan air mata menetes membasahi pipi sambil berbisik didalam hati, “It’s okay to be not okay, Sarah.”

 

“It’s better to cry than be angry because anger hurts others while tears flow silently through the soul and cleans the heart.”

Pope John Paul II

 

October 29th, 2019

part 1 http://www.sarahbeekmans.co.id/life/

part 3 http://www.sarahbeekmans.co.id/all-you-have/

 

Bagikan ini: