0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“You’re not going to make a difference by hugging a tree. Be part of an industry and make changes from within.”

Andrew Swan

 

Waktu itu hari masih agak sore saat saya, Jade, dan Steven menuju tempat parkir yang hanya beberapa blok dari gedung Merchandise Mart. Kami memasuki mobil dan mobil melaju cukup pelan sehingga saya dapat menikmati cahaya langit berhiaskan awan putih.

 

Daun-daun yang meliuk tertiup angin nampak jelas terlihat dari balik kaca mobil. So serenity. Pohon European backthorn dan green ash mendominasi jenis pepohonan sepanjang jalan. Daun-daunnya terlihat mulai berubah dari hijau teduh menjadi merah merona pertanda musim gugur mulai menyapa.

 

Semilir lembut angin berhembus di antara daun-daun yang jatuh, bertebaran laksana karpet warna-warni di sepanjang trotoar lebar. Sejuknya udara yang bisa saya rasakan saat mengeluarkan tangan ke luar kaca mobil menambah sempurna keindahan sore itu.

 

“Sarah, kamu sepertinya tidak nampak kelelahan setelah perjalanan mengelilingi setengah dunia. Kamu tidak jetlag yah atau karena kamu terlalu sering traveling sehingga body clock kamu suka telat sadar jika sudah pindah benua?” Jade memecah kesunyian dengan melepas canda.

 

Oh Jade, I love my job, I don’t want to work somewhere else dan sepertinya iya, sebelum tubuh sadar kalau sudah pindah benua, saya sudah pulang lagi ke Indonesia.” Saya berkata dengan mata berbinar-binar penuh semangat dan ikut membalas candaannya.

 

“I love my job as well, Sarah. Saya juga sangat peduli terhadap apa yang bisa ditimbulkan pada lingkungan atas apa yang saya lakukan. Itulah mengapa saya memilih membuka store khusus organic jewelry.” Jade menjelaskan sambil menatap lurus ke depan dan tetap menyetir.

 

Agree dengan pendapat kalian berdua. Saat kita mengerjakan sesuatu yang greater than ourselves, we find meaning. Tidak boleh hanya sekadar for being fashionable.” Steven ikut menimpali pembicaraan dengan gayanya yang selalu serius.

 

“Oh well, Steven, menurut saya tidak ada yang salah for being fashionable , tapi bagaimana menjadi fashionable dan tetap peduli pada dampak lingkungan. You know what, semasa kuliah dulu saya adalah salah satu orang yang sangat impulsif saat shopping. Semuanya ingin saya beli, apalagi jika ada sale. Merek ternama menjadi tolak ukur saat saya membeli. Segala macam aksesoris dari ujung kepala sampai kaki saya beli tanpa peduli terbuat dari apa dan apa dampaknya pada lingkungan. Saya sungguh orang yang apathy saat itu.” Saya menjelaskan sambil menghela nafas dalam-dalam.

 

“Oh ya? Terus sejak kapan dan kejadian apa yang membuat kamu berubah dari fashion victim menjadi fashion conscious sehingga mulai memikirkan tentang dampak lingkungan?” Steven bertanya dengan wajah penasaran.

 

“Pasti keputusan tersebut tidak terjadi dalam semalam, seperti juga saya, Sarah.”

Jade ikut menghela nafas seakan mampu merasakan gejolak perasaan saya.

 

“Kamu betul, Jade. It’s not about event, it’s about intensity. Semua berproses, ibarat hati saya adalah batu karang dan perubahan tersebut laksana air. Gemercik air sedikit demi sedikit mampu melelehkan karang kokoh yang sebenarnya sulit di tembus.” Saya kembali menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasan.

 

“Semakin lama semakin banyak fakta-fakta pedih di balik gemerlap industri fashion yang menimbulkan desakan-desakan di hati saya untuk ikut terjun dalam  industri ini agar lebih beretika. Saya ingin menggunakan pikiran, kedua belah tangan, dan hati untuk melakukan sesuatu yang bigger than myself.” Suara saya agak tercekat dan susah menjelaskan karena di saat yang bersamaan saya flash back membayangkan semua lika-liku kehidupan yang membawa saya sampai ke titik ini.

 

Perbincangan sore itu membuat saya flash back ke masa di saat memulai mimpi saya untuk terjun langsung di dalam fashion industry, walaupun tidak mempunyai background fashion sama sekali.

 

Saat itu, I was fully aware that my ability maybe limited, tapi saya punya satu hal yang mampu mengalahkan my limitation, yaitu unlimited persistence.

 

Saat ini, semakin banyak fashion enthusiast yang peduli dan bertanya tentang dari mana dan bagaimana aksesoris yang mereka kenakan dibuat sehingga membuat saya semakin percaya diri bahwa saya berjuang untuk hal yang benar.

 

I want to wear my values karena  menurut saya, sukses adalah memberikan manfaat bagi lingkungan dan sesama.

 

“The question is not ‘Can you make a difference?’ You already do make a difference. It’s just a matter of what kind of difference you want to make during your life on this planet.”

Julia Hill

 

June 29th, 2018

 

the impact

Bagikan ini: