“What people need is not advice but simple presence.” Parker J. Palmer
Nigel masih menatap jalan di depan, tetapi nada diamnya memberi tahu saya bahwa pikirannya masih tertinggal pada percakapan kami barusan.
Chloe bersandar santai di kursinya, sementara Sophie terus mengayun-ayunkan kaki mungilnya, seolah gerakan kecil itu membantu menyusun pertanyaan di kepalanya.
Tiba-tiba Sophie berbisik, “Mama… when people feel sad, do they always need someone to stay?”
Saya menoleh pelan. Rambut ikalnya yang cokelat jatuh lembut di pipinya, bulu matanya yang lentik bergetar pelan saat ia menunggu jawaban, matanya bersinar dengan penuh rasa ingin tahu.
“Tidak selalu, sayang,” saya berkata lembut. “Tapi sering kali kehadiran kecil sudah cukup membuat hati merasa lebih tenang, peaceful.”
Chloe mengerutkan kening, serious dengan caranya sendiri. “So, what if someone doesn’t want to talk? What do we do then?” Sebelum saya sempat menjawab, Nigel yang sejak tadi diam akhirnya ikut masuk ke percakapan.
“Then we just wait,” katanya pelan tanpa menoleh. “You know, like when Sophie gets upset and hides under the blanket. You just play next to her with your toys. You don’t push. You just stay close.”
“Sometimes it’s enough to just be there.” Thich Nhat Hanh
Part 7.

