0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Coming together is a beginning, keeping together is progress, working together is success”

Henry Ford

 

Setelah perjalanan panjang yang berliku dan penuh perjuangan, pesawat membawa kami bertiga: saya, mbak Riema dan mbak Lina ke Las Vegas. Akhirnya sampai juga di kota yang menggenggam sejuta impian kami. #ehemmm

 

Perasaan saya campur aduk karena di malam takbiran kami malah menghabiskan malam di karpetnya Seattle airport dan besoknya lebaran, kami bertiga malah terdampar di kota judi. Walaupun jetlag melanda, siang harinya kami harus segera geret-geret koper yang sangat berat ke venue dan harus melewati jalanan tidak mulus dan naik turun lift dan tangga. #mencoba menjadi Hulk

 

Saat sedang mendorong koper, hati kecil saya berkata, “Kalau saya di Indonesia, saya pasti sedang menikmati lezatnya segala macam jenis opor yang menyebabkan opor weight”. #tiba-tiba kangen opor ayam

 

Booth saya dan mbak Lina bersebelahan, sedangkan booth mbak Riema letaknya di seberang booth mbak Lina. Semakin siang saya semakin panik, bertanya-tanya dalam hati kenapa tidak ada yang mampir, padahal sudah pasang senyum andalan sampai gigi kering. Akhirnya saya sukses masuk angin dan perut kembung karena kebanyakan senyum. #Puk… puk… bahu oh mana bahu #shoulder to cry on

 

Agar mengurangi galau di hati, saya main ke booth mbak Lina dan mbak Riema juga ada di sana. Akhirnya kami mengobrol cekakak-cekikik karena ada sisi lucu di balik derita perjalanan kami.

 

Mbak Lina termasuk tipe super duper Hulk, padahal kakinya terkilir sewaktu peristiwa kami lari-larian mengejar pesawat dan hanya di ikat scarf. Walaupun sakit, tapi matanya yang menawan tetap memancarkan cahaya yang menghangatkan hati yang galau ini. #eaaaa

 

Tidak lama kemudian, tiba-tiba saya dipanggil. Ternyata ada buyer datang ke booth, gayanya sangat santai, memakai baju hitam dan celana jeans hitam, berambut hitam (jadi ingat iklan sampo ketombe, “Pakai hitam? Siapa takut!”). Dia tersenyum manis, mirip senyum andalan saya, tapi tentunya lebih manis senyuman saya dong. #narsis akut  #kibas poni

 

Dia lalu memperkenalkan dirinya dengan gaya yang cool, “Hey, I am Jade”, sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. Saya pun tidak mau kalah. Saya memperkenalkan diri juga dengan mengikuti gayanya yang cool.

 

Jade orangnya sangat ramah, jadi akhirnya kami malah mengobrol ngalor-ngidul sambil cekakak-cekikik. Dia lalu bertanya, “Sudah kemana saja?”. “Belum ke mana-mana, bingung mau ke mana”, kata saya dengan muka galau campur sok cool.

 

Dia menjawab, “Mari saya ajak kamu jalan-jalan keliling, kamu bisa ajak teman kamu juga”. Saya bingung,  kaget, tapi tetap masih sok cool. #terbawa arus aura Jade yang cool.

 

Saya pergi ke booth teman saya dan berkata, “Ada buyer saya yang mau ajak kita jalan-jalan”. Mereka merespon dengan ekspresi antara kaget, bingung, dan agak takut karena baru bertemu jadi bisa saja berniat jahat. Setelah berkenalan, kecurigaan mereka sirna karena Jade selain sopan, pancaran matanya yang lebih terang dari lampu minyak petromaks tersebut memancarkan kejujuran.

 

Setelah pulang pameran, kami bertiga diajak kerumah Jade terlebih dahulu. Sesampainya di rumah Jade, dia dengan bangga memperkenalkan istri dan anaknya.

 

Rumah Jade sangat besar, dia bahkan punya mobil Lexus terbaru dan banyak toko  di Las Vegas. Di balik gayanya yang sederhana, dia adalah pengusaha yang sangat mapan, tapi kok mau jadi tour guide kami? Rasanya seperti upik abu yang tiba-tiba jadi Cinderella. #senyum 32 gigi

 

Kami diajak dinner dahulu. Setelah itu, kami diajak melihat air mancur yang bisa dance dan tour napak tilas lokasi pembuatan film “Ocean’s Eleven”. Tak lupa juga diajak melihat The Wynn Conservatory yang sangat unik. Tempat itu berbentuk atrium yang memiliki lantai mosaik sangat indah dan dipenuhi rangkaian bunga yang sangat ‘wow’.

 

Selama acara jalan-jalan itu, kami seperti mempunyai photographer pribadi karena di setiap sudut kami difoto dan Jade memang benar-benar care dan menganggap kami seperti keluarga barunya. Mbak Lina yang kakinya sakit pun bahkan mau disewakan kursi roda listrik. Oh so sweet.

 

Sepanjang perjalan Jade bercerita singkat bagaimana dia berjuang dari seorang imigran yang tidak punya apa-apa, tapi istrinya mau menerima dia apa adanya dan merawat anaknya sepenuh jiwa. “She doesn’t loose sight because she understand the difference between necessity and luxury” kata Jade menutup pembicaraan.

 

Hal itu semua yang membuat dia sangat mencintai istrinya. Dari intonasinya yang penuh tekanan emosi, saya bisa merasakan getaran dan deru ombak cintanya yang sangat kuat terhadap sang istri. #tsaaahhh

 

Ternyata pepatah ini sungguh nyata, “Jangan menolak lelaki kalau kurang mapan, kalau sudah mapan seleranya bukan kamu”.

December 29th, 2017

 

Perjalanan menuju las vegas di: http://www.sarahbeekmans.co.id/never-met-strong-person-easy-past/

 

las vegas

Bagikan ini: