“Not all stories need our name to find their way to us”
Percakapan di samping saya belum juga mereda. Mereka kini berbicara tentang anak-anak, tentang sekolah, dan tentang rasa rindu yang mengendap karena sudah terlalu lama tidak pulang ke Indonesia.
Suara mereka penuh warna. Kadang tawa meledak begitu saja, kadang nada bicara melambat, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh tapi tak ingin lama-lama dibuka.
Salah satu dari mereka menggigit bibirnya sebentar, lalu kembali tertawa, menutup jeda dengan cerita baru yang langsung disambut oleh yang lain, seolah tak ingin ada satu pun kata jatuh tanpa tanggapan.
Bus terus melaju, tapi suasana di sekitar kami tetap hangat. Tak satu pun menyela dengan tergesa dan tak ada yang menahan cerita. Semuanya mengalir seperti sungai kecil yang tahu jalannya sendiri.
Saya yang awalnya hanya ingin diam, pelan-pelan ikut mendengar. Bukan karena ingin menguping, tapi karena suara-suara itu begitu dekat, begitu hidup, dan tak bisa tidak untuk sampai ke telinga.
Ternyata tidak semua kebisingan adalah gangguan. Ada suara-suara yang justru menghidupkan ruang yang tadinya hening. Ada tawa yang, meski bukan untuk saya, justru memberi rasa hangat yang anehnya, bisa terasa akrab.
Saya kembali menatap keluar jendela. Kota makin sibuk, tapi di dalam diri justru tumbuh keheningan yang dalam. Bukan dari suasana sunyi, tapi dari kesadaran bahwa kehadiran tidak selalu berarti menjadi pusat percakapan.
“Some stories don’t bloom by being told to us, but by simply passing near enough to move us.”
Part 23.

