Anak-anak yang seharusnya bisa menikmati indahnya masa-masa bermain justru harus menanggung beban berat kehidupan dengan bekerja keras berpuluh-puluh jam dalam satu minggu. Sebagian besar anak-anak tersebut bekerja di pabrik tekstil membuat pakaian untuk beberapa merek ternama.
Ratusan Anak Bekerja untuk Industri Fast Fashion
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Overseas Development Institute (ODI) pada 2016 silam, sekitar satu pertiga anak-anak yang tinggal di daerah kumuh ibu kota Bangladesh menjadi buruh pabrik garmen. Waktu kerja mereka rata-rata selama 64 jam setiap pekan. Itu bukan total waktu kerja yang normal tentunya, apalagi untuk anak-anak di bawah umur.
Lembaga penelitian yang berbasis di London ini telah menyurvei sebanyak 2.700 keluarga di Bangladesh. Mereka menemukan bahwa 32 persen anak berusia 10 hingga 14 tahun penduduk Dhaka memilih keluar dari sekolah untuk dapat bekerja purnawaktu di pabrik-pabrik garmen. Ironisnya, penghasilan yang didapat sebagain besar dari mereka tak sebanding dengan tenaga yang dicurahkan, yakni kurang dari $2 sehari.
Disebutkan ODI bahwa temuan mereka tersebut menimbulkan keprihatinan serius terhadap pekerja anak dalam penyediaan pakaian dari pabrik di Bangladesh untuk konsumen di Eropa, AS, dan tempat-tempat lainnya. Tingginya skala kerja anak-anak usia sekolah di sektor tersebut, ditambah hubungan antara pabrik-pabrik berskala kecil dan eksportir skala besar membuat anak-anak di Dhaka ikut tejun dalam produksi ekspor.
Meski penelitian yang dilakukan ODI tidak mewakili secara nasional, tetapi temuan ini setidaknya memberikan gambaran tentang dunia pekerja di kota besar seperti Dhaka. Hampir separuh penduduk kota Dhaka tinggal di daerah kumuh Bangladesh dan para pekerja berusia di bawah umur tersebar di daerah-daerah kumuh tersebut.
Beberapa upaya telah dilakukan oleh Bangladesh untuk menghapuskan jenis terburuk dari pekerja anak beberapa tahun ini, tetapi jumlahnya masih saja banyak. Terdapat lebih dari 5 juta anak-anak di negara tersebut, berusia antara 5 hingga 17 tahun, masih terlibat dalam beberapa jenis pekerjaan. Data tersebut didapat dari laporan International Labour Organization (ILO).
Pekerja Anak-Anak di Industri Fast Fashion
Hukum yang berlaku di Bangladesh sebenarnya menetapkan bahwa minimal usia kerja yang diizinkan adalah 14 tahun. Namun, sejak usia 12 tahun anak-anak sudah boleh membantu bekerja dengan catatan waktu kerja 42 jam sepekan selama tidak mengganggu pendidikan mereka.
Sayangnya, ketetapan hukum tersebut hampir tidak diindahkan. PBB memperkirakan ada lebih dari 90 persen pekerja anak bekerja di sektor informal seperti bengkel-bengkel kecil, jalanan, bisnis rumahan, dan sebagainya. Di tempat-tempat seperti itu UU tenaga kerja yang berlaku ditegakkan dengan buruk dan sering kali diabaikan orang-orang.
Lebih dari setengah jumlah anak-anak usia 14 tahun yang tinggal di Dhaka sudah berkerja. Dua pertiganya adalah gadis-gadis yang dipekerjakan untuk industri garmen senilai $25 miliar USD per tahun di Bangladesh—setara dengan Rp335 triliun rupiah—dibandingkan dengan 13 persen anak-anak lelaki. Industri garmen di negara ini memang yang terbesar kedua di dunia setelah China.
Para anak yang bekerja tersebut dilaporkan mencapai jumlah yang signifikan atas kelelahan ekstrem, nyeri punggung dan demam, serta luka-luka ringan. Untuk mencegah jumlah tersebut kian bertambah, ODI melaporkan bahwa diperkirakan prospek investigasi dan pemantauan akan menghalangi perekrutan anak-anak di bawah umur. Denda juga mulai diberlakukan bagi yang melanggar UU pekerja anak dan akan dilakukan pemeriksaan dadakan tanpa pemberitahuan oleh Kepala Inspektur Pabrik (bekerja di bawah naungan Kementerian Tenaga Kerja).
Adanya masalah sistematis dari penegakan dan kepatuhan UU yang berlaku membuat ODI mendesak merek-merek untuk mengambil peran yang lebih proaktif dan memberikan solusi membangun atas masalah pemberdayaan anak di bawah umur ini.
Para konsumen juga hendaknya lebih bijak dan kritis terhadap pilihan fesyennya. Siapa sangka, ada cucuran peluh dari anak-anak yang seharusnya belajar dan bermain sambil menggapai mimpi mereka yang besar di balik keindahan helai demi helai produk industri fast fashion yang kita pakai.



