“We often end up where laughter decides to take us.”
Perut saya dan Mbak Patsy sudah memanggil sejak tadi untuk mencari tempat makan malam. Saat kami berbelok, terlihat penjual sate seafood dengan tusukan yang luar biasa panjang.
Contrast sekali dengan sate serangga dengan tusukan mini yang kami lihat di kios sebelumnya. Kami kembali tertawa melihat para pembeli yang menikmati sate itu langsung dari tusukannya yang panjang seperti stick anggar.
Udara malam itu tidak hanya dipenuhi aroma gurih seafood, tetapi juga bercampur dengan tawa saya dan Mbak Patsy yang sejak tadi tidak berhenti mengalir saat mengamati cara orang menikmati sate berukuran super itu.
Dari tawa yang pecah hanya karena deretan botol putih susu, ibu tua dengan aroma kue manis yang melintas, hingga moment di depan kios sate seafood, semuanya menjadi potongan kecil yang membuat malam terasa lebih meriah.
Ternyata canda tawa di sepanjang jalan mampu membuat langkah kami terasa jauh lebih ringan. Cukup dengan berhenti sejenak, menertawakan hal-hal yang bahkan absurd dan menikmati kehadiran orang yang berjalan bersama kita.
Di tengah riuh pasar malam itu, saya menyadari bahwa canda tawa yang muncul begitu saja sering kali mengubah suasana lalu membawa kami ke moment-moment hangat yang sama sekali tidak direncanakan.
Oh well, perjalanan sering terasa lebih memorable bukan karena tempat yang dituju, tetapi karena tawa yang mengiringi langkah tanpa kami sadari.
“Laughter is timeless.” Walt Disney
Part 37.

