“Sometimes we grow tired not from what we carry, but from what we keep expecting to arrive.”
Saya berdiri cukup lama di depan conveyor belt dengan mata mengikuti setiap koper besar yang lewat. Hitam, abu-abu, biru tua namun masih menunggu yang berwarna pink. Besar, sedikit mencolok dan mudah terlihat dari jauh.
Di samping, seorang wanita yang tadi sempat tertahan lama di security check karena perhiasannya, ikut melirik ke arah belt lalu menatap saya.
“Holiday?” tanyanya ramah. “No, business meeting. I’ll be back home tomorrow.”
Pandangan matanya kemudian turun ke koper kecil di tangan saya dan ia tampak heran. “But you still bring extra luggage for only one night?”
Saya refleks ikut melihat ke bawah. Masih koper cabin kecil yang sama. Sejak check-in di Indonesia, memang hanya itu yang saya bawa. Tidak ada koper besar berwarna pink yang biasanya menemani setiap tradeshow.
Di depan belt itu, saya menyadari bahwa lelah pun bisa datang hanya karena menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak pernah saya bawa.
Oh well, ternyata lelah tidak selalu datang dari beban yang berat. Kadang kita lelah karena terus menunggu dan mencari hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
“Peace begins the moment we stop waiting for what was never meant for us.”
Part 25.

