“When we cannot move, we are given a chance to notice where we stand.”
Seorang bapak berseragam lusuh keluar dari bengkel, mengetuk ujung rokok ke tanah sebelum mematikannya. Ia lalu duduk tak jauh dari saya. Asap rokok yang tadi mengepul pelan kini terbawa angin siang yang panas.
Ia menoleh sebentar dan pandangannya jatuh pada Nigel, Chloe dan Sophie yang sedang bermain di bawah bayangan pohon. “Itu anak-anaknya yah, Bu?” tanyanya dengan nada penasaran di dalamnya.
“Iya, Pak. Kami rencana road trip selama satu bulan di Sulawesi.” “Oh begitu,” sambil mengangguk pelan. “Pantas, plat mobilnya bukan dari sekitar sini. Semoga nanti boss bisa bantu cepat, kasihan anak-anak kalau terlalu lama tertahan.”
Saya ikut tersenyum, “Iya, Pak, semoga yah.” Ia tertawa kecil dan menatap jalan yang berdebu. “Ya, namanya juga perjalanan. Kadang kita memang dipaksa berhenti sebentar.” Kalimatnya meluncur ringan, tapi terasa menancap.
Dari kejauhan terdengar suara machine meraung, bercampur dengan obrolan para pekerja. Antrean kendaraan di bengkel tak ada tanda akan cepat selesai. Namun kata-kata bapak itu membuat waktu menunggu terasa berbeda.
Saya menoleh lagi pada anak-anak yang masih asyik mengobrol sambil mengamati kali seolah tak peduli kapan mobil bisa di check. Mungkin benar yang dikatakannya.
Dalam perjalanan panjang, yang berarti bukan hanya sampai di tujuan, tetapi juga jeda yang memaksa kita berhenti. Justru dalam jeda itu,kita bisa mengingat bahwa perjalanan itu sendiri adalah bagian dari hadiah.
“Sometimes being forced to stop is life’s way of letting us catch our breath.”
Part 31.

