“Slowing down turns noise into warmth and chaos into meaning.”
Malam itu terasa lebih hidup, hanya karena saya dan Mbak Patsy membiarkan diri menoleh, berhenti lalu menertawakan hal hal sepele yang lewat begitu saja di depan mata.
Ada kedamaian yang muncul ketika rasa ingin tahu berubah menjadi tawa yang tidak putus, seperti udara hangat yang merayap perlahan di antara kerumunan.
Kami pun melangkah lagi, masih sambil menahan senyum yang tidak mau hilang. Lampu-lampu kios bergoyang ringan di atas kepala, memantulkan warna keemasan di jalanan basah yang sepertinya baru saja diguyur hujan sore tadi.
Dari segala arah terdengar gemuruh yang saling bertumpuk. Desis daging yang mengenai panggangan, pekikan anak anak yang merengek meminta mainan dan gelak tawa pengunjung yang bersaing dengan music dari wahana permainan.
Pasar malam ini padat dan nyaring, namun di tengah riuh itulah saya menemukan ruang kecil untuk bernapas.
Malam yang semrawut itu mengajarkan saya bahwa dunia terasa lebih ramah saat kita melangkah pelan dan mau memberi ruang bagi diri sendiri untuk melihat hal hal kecil yang mudah terlewat.
Ternyata, ketika saya berhenti sejenak di tengah hiruk pikuk ini, pasar malam yang bising pun bisa berubah menjadi tempat yang hangat.
“When we walk slower, life shows its softer colors.”
Part 36.

