“Do not let the perfect be the enemy of the good.” – Voltaire
Saya kembali menuang tea perlahan, lalu menatap ibu pemilik villa yang duduk di seberang, wajahnya tenang dengan senyum yang hangat. “Ibu selalu menyiapkan semua makanan ini setiap pagi?”
Asap tipis dari tea masih naik perlahan, memenuhi udara dengan hangat yang lembut. Saya menoleh pada ibu pemilik villa yang duduk di seberang dengan senyum hangatnya. “Ibu selalu menyiapkan semua makanan ini setiap pagi?”
Ia tersenyum, matanya menyipit lembut. “Tidak selalu, kadang hanya pisang goreng. Kebetulan masih ada tepung, tapi karena kentang dan ubi habis, saya ganti dengan singkong. Jadilah donat kampung untuk ibu Sarah sekeluarga.”
Saya mengambil sepotong. Bentuknya sederhana dengan taburan gula halus dan tidak seragam, tapi wangi gorengannya masih hangat. Gigitan pertama membuat saya terdiam.
Texturenya padat namun tetap empuk, dengan kekenyalan khas singkong kukus yang dihaluskan. Rasanya berbeda jauh dari donat modern yang berongga lembut dan diselimuti aneka topping mewah.
Rasa gurih manis donat kampung ini lahir dari singkong itu sendiri. Saya termenung, membayangkan jika ia menunggu semuanya lengkap seperti donat modern yang sempurna, mungkin tidak ada sarapan donat di meja kayu ini.
Kata-kata ibu itu mengalir sederhana, tapi ada sesuatu yang mengendap di hati. Betapa sering kita menunda untuk memberi, menunggu semuanya tampak ideal, padahal hidup tidak pernah menunggu sampai semua lengkap.
Saya menatap donat kampung di tangan. “Kalau harus menunggu semua bahan lengkap, mungkin tidak ada donat pagi ini ya, Bu.” Ibu itu tersenyum, matanya berkilat lembut. “Begitulah,” jawabnya singkat, senyumnya tetap hangat seperti cahaya pagi.
“It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor.” Seneca
Part 17.

