0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Peace begins not when the storm ends, but when the heart stops fighting the rain.”

 

Angin malam menyusup perlahan, menggoyangkan tirai di jendela belakang kami seperti napas yang mulai mengantuk. Dari teras, aroma melati bercampur garam laut terbawa angin, mengalun lembut ke dalam rumah.

 

Sophie menatap halaman kosong di buku catatan saya, matanya seolah memikirkan sesuatu yang belum menemukan bentuk. Malam terasa tenang, hanya suara ombak dari kejauhan dan detak waktu yang berjalan tanpa tergesa.

 

Saya memperhatikan garis wajahnya yang mulai beranjak dewasa. Ada keheningan yang baru di sana, seperti seseorang yang mulai belajar berbicara dengan dirinya sendiri.

 

Ia menunjuk buku di pangkuan saya dan bertanya pelan, “Mama, what do you usually write in here? They sound like poem or maybe feelings you don’t say out loud?”

 

Saya tersenyum kecil. “Sophie, sayang, menulis bukan hanya tentang menuangkan perasaan. Di antara jeda kata dan napas, kita belajar mendengar suara hati yang sebenarnya.”

 

Ia mengangguk perlahan. “So… it’s like writing helps us see ourselves clearer, not just the problem?”  “Iya, sayang,” Sembari membelai rambutnya.

 

Oh well, tulisan tidak selalu memberi jawaban, tapi bisa memberi cermin yang tenang. Sebab ketenangan bukan datang hanya ketika segalanya usai, melainkan saat hati mampu berdamai dengan apa yang masih berjalan.

 

“Calm is not found in perfection, but in the gentle acceptance of what remains unfinished.”

Part 8.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!