“We suffer more often in imagination than in reality.” Seneca
Perlahan, saya sedikit memiringkan tubuh dan membiarkan satu sisi suara tetap tinggal sementara pandangan bergeser ke luar jendela.
Di sana, awan-awan putih terbentang tenang. Lapisan demi lapisan, lembut dan diam seolah tidak pernah tersentuh oleh apa pun.
Sulit membayangkan bahwa di bawahnya, mungkin ada hujan yang turun tanpa henti atau angin yang bergerak tanpa arah. Dari jendela pesawat, semuanya terlihat damai.
Saya terdiam cukup lama. Ada jarak yang terasa berbeda. Bukan hanya antara saya dan bumi di bawah sana tetapi juga antara saya dan rasa tegang yang tadi sempat terasa begitu dekat.
Sering kali kita terjebak pada apa yang paling dekat. Rasa tegang yang terasa berat, memenuhi ruang dan seolah tidak memberi jeda untuk bernapas. Namun dari posisi ini, rasanya mulai berbeda.
Bukan karena keadaan di luar berubah tetapi karena saya tidak lagi tenggelam dalam rasa tegang itu seperti sebelumnya.
Dari posisi ini, saya mulai melihat bahwa apa yang tadi terasa berat perlahan berubah dan tidak selalu sebesar yang kita rasakan saat kita masih berada terlalu dekat di dalamnya.
“Clarity doesn’t always come from looking closer.”
Part 8.

