“Satu, jangan terlalu banyak ngurusin orang, jangan terlalu banyak nyinyirin orang, mendingan ngaca dulu. Dari pada kita cuman ‘ah elu mestinya..’ Why don’t you criticize yourself apa yang semestinya lu lakuin sendiri. Kenapa saya nggak pernah ngurusin orang, karena itu ngabisin energi, ngabisin waktu, dan capek-capekin diri.”
Agnes Monica – Tips bagaimana bisa meraih mimpi masa kecilnya
Saya berjalan memasuki salah satu restaurant megah dan menghampiri petugas di depan pintu lalu ia meminta mengikutinya menuju salah satu ruangan VIP. Terlihat sudah ada beberapa orang dan saya menghampiri sembari membungkukkan setengah badan tanda hormat disaat mereka juga memberikan gesture yang sama.
Pria yang terlihat paling tua dan berwibawa berkata “Apakah kamu The Sarah ?” Muka saya langsung merona merah mendengar ia menyematkan kata ‘The’ dan menjawab dengan kikuk, “Yes, saya Sarah Beekmans.”
“Saya sudah melihat beberapa sample hasil karya kamu dan sangat suka.” Ia berbicara dalam bahasa Jepang dengan intonasi pelan namun tegas dan translator mengartikan satu persatu.
Lunch yang disuguhkan sangat menggugah selera, namun saya terlalu nervous karena finally bisa bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan atau sachou.
Satu hal yang saya sukai dari dirinya adalah kami share value yang sama, ia tak masalah jika saya memberikan quality yang sama untuk melayani perusahaan lain di Jepang.
Di tengah meeting, ia menyerahkan design jewelry yang terdiri dari tiga layers, silver, gold dan tanduk. Saya bertanya bagian mana yang silver, gold dan horn karena tulisan bahasa Jepang tersebut ingin ditranslate ke bahasa Inggris agar tidak salah.
“I want the best quality of gold plated di sini, the best quality of 925 silver di sisi ini dan I want ‘sarah’ di sisi yang paling besar ini.” Sembari menunjuk satu persatu dan saya focus mencatat, namun disaat ia mengatakan ‘Sarah’, saya mengira ia salah menyebutkan kata.
“Excuse me? Sarah ?” mengeryitkan kening dan menatap ke arah secretarynya yang sedari tadi berfungsi sebagai translator.
“ ‘Sarah’ maksudnya adalah the best quality of horn.” Secretary dari Sachou menjelaskan secara singkat.
Wajah semakin memerah seperti kepiting rebus dan hidung langsung mengembang besar seperti balon udara di Cappadocia, Turkey. Saya seakan melompat di antara lembutnya gumpalan awan putih saking bahagianya karena ia menggunakan ‘Sarah’ sebagai kata ganti the best quality of horn.
Seketika kembali teringat atas wish list yang dulu pernah saya tulis di diary kecil. Ada setumpuk wish list dan jika dibaca satu persatu kesannya absurd dan tidak masuk akal.
Mengapa ? karena saat menorehkan ratusan mimpi dengan tinta di secarik kertas, saya hanyalah seorang mahasiswi manja, cengeng dan baru pindah ke Inggris dengan zero life experience.
Salah satu mimpi adalah yang tertera di pembatas buku yang sempat saya beli sebelum pindah ke Leeds : Work until you no longer have to introduce yourself.
Pembatas buku itu saya gunting dan tempelkan di diary dan menuliskan kata ‘sampai ke negaranya Doraemon’ tepat di sampingnya.
Impian absurd lainnya, ingin berbincang langsung ke ahlinya mengenai : mindfulness dengan Thay Thich Nhat Hanh, find my why dengan Simon Sinek, laws of human nature dengan Robert Greene, branding dengan Gary Vee, individual super power dengan Jordan Peterson, legal conspiracy dengan Brad Meltzer, merangkai kata romantic dengan Danielle steel, hingga sederet penulis lain yang bukunya selalu menemani dalam merajut impian.
Semua impian itu satu persatu telah terkabulkan walaupun harus dilalui dengan tertatih-tatih. Sungguh mengharukan di saat bisa bertemu sang idola dan berhasil menjadi top of mind hingga tak perlu memperkenalkan diri lagi terutama di Jepang yang terkenal standard quality paling tinggi di dunia.
Daftar impian memang harus sedetail mungkin, karena misalnya hanya menulis ingin sukses, sukses seperti apa ? Sukses itu relatif karena nilai cukup setiap orang berbeda-beda.
Andaikan lupa dijabarkan satu persatu di wish list, misalnya bermimpi ingin membeli becak berwarna pink , disaat sudah sukses, belum tentu alam bawah sadar mengiyakan hati untuk membelinya. Tentunya walau pun mimpi itu gratis, sangat diperlukan kerja keras, persistence dan doa restu kedua orang tua.
Hal penting lainnya, daftar mimpi merupakan rangkaian doa sehingga jika melihat wish list orang lain maka saya lebih baik mengaminkan, bukan malah mencibir. Bukankan mendoakan yang baik untuk orang lain merupakan salah satu sebab terkabulnya doa saya sendiri?
“If people aren’t laughing at your dreams, then they aren’t big enough!”
Grayson Marshall – Motivational speaker
April 15th, 2022

