“What we do repeatedly shapes how we occupy space.”
Kapal kembali tenang. Tepat di samping saya, dua orang asing bersandar di pagar besi. Rambut pirang kecoklatan mereka tampak lebih terang di ujungnya, seperti sering disentuh matahari dan asinnya air laut.
Kaos mereka tipis dan agak pudar dengan garis kulit terbakar di daerah leher dan pergelangan tangan.
Di salah satu pergelangan kaki, terlihat gelang tali dengan hiasan kerang sederhana. Bedanya, gelang kaki yang Sophie pakai berwarna pink.
Pandangan mereka sesekali melayang ke arah cakrawala, seperti kebiasaan orang yang tanpa sadar selalu membaca laut dan mencari bentuk ombak yang belum tentu datang.
Saya memperhatikan lebih lama. Dari cara mereka berdiri santai dan menatap laut tanpa tergesa, mudah ditebak mereka bukan orang yang asing dengan hempasan ombak di laut lepas.
Ada sesuatu yang terasa akrab dari semua itu. Seolah pengalaman panjang bisa tinggal di tubuh seseorang, membentuk cara berdiri, cara menunggu hingga cara menatap tanpa perlu banyak cerita.
Oh well, kadang siapa kita sudah terbaca pelan, bukan karena diperhatikan tapi karena hadir apa adanya.
“Years leave traces that words never need to explain.”
Part 14.

