“Faith is an oasis in the heart that will never be reached by the caravan of thinking.” Khalil Gibran
Langit sore itu biru bagaikan batu sapphire ketika saya, Chris, Nigel, Chloe dan Sophie meluncur menuju I Gusti Ngurah Rai airport. Chloe dan Sophie duduk di samping, sesekali menempelkan dahi ke jendela yang berembun tipis.
Sophie duduk tanpa banyak bicara. Ia tidak bertanya kapan saya pulang, tidak meminta ikut dan tidak merengek minta duduk di pangkuan seperti biasanya.
Ia hanya memejamkan mata dengan bibir yang bergerak lirih seakan-akan sedang menitipkan sesuatu yang lembut dan tidak membutuhkan suara untuk sampai.
Doa itu mungkin hanya satu dua kalimat, tetapi rasanya seperti selimut ringan yang perlahan disampirkan ke bahu saya.
Saya memanggil pelan, “Sophie sayang.” Ia membuka mata, menengok dan dengan tangan mungil yang masih setengah terangkat ia berbisik, “Hati-hati di jalan, Mama. Take care.”
Perjalanan hari itu sesungguhnya tidak dimulai ketika kaki saya menjejak lantai pesawat. Perjalanan itu dimulai jauh lebih awal, di dalam mobil, ketika seorang anak kecil mengangkat kedua tangannya dan menitipkan saya dalam doa.
Doa itu menjadi cara halus Sophie untuk menjaga saya dari jauh tanpa perlu menggenggam tangan.
“Faith sees the invisible, believes the unbelievable and receives the impossible.” Corrie ten Boom
Part1.

