0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“When the world refuses to move for us, we learn to move with it.”

 

Mbak Patsy duduk di kursi lipat putih  dan tangannya menepuk-nepuk kain beludru hitam yang menutupi meja display, lalu menatap saya dengan senyum hangat. Senyum yang tidak tergesa, seperti seseorang yang sedang menakar kata-kata.

 

“Mbak Sarah, dulu saya pikir yang paling penting itu kekuatan,” ucapnya pelan. “Tapi ternyata, yang paling sering menyelamatkan justru kelenturan.” Saya menoleh, menunggu lanjutannya.

 

“Seperti kain ini. Kalau kaku, sekali ditarik bisa robek, tapi kalau lentur, ia ikut bergerak, kembali ke bentuknya, meski sempat diremas.” Di balik wajahnya yang cerah, ada keteduhan dan kebijaksanaan yang tidak dibuat-buat.

 

“Hidup juga begitu. Bukan soal melawan semua yang datang, tapi tentang bagaimana kita bisa mengikuti iramanya. Kadang pelan, kadang cepat.” Saya menyambung, setengah bercanda, “Dan seringkali tak tentu. Digempur badai, terjebak banjir, koper rusak, ketinggalan pesawat…”

 

Saya belum selesai menyebutkan daftar yang telah kami alami, tapi sudah tertawa lebih dulu. Tawa yang lega karena tahu rasanya jungkir balik tapi tetap memilih berdiri. Lalu kami diam sejenak.

 

Kata-katanya sederhana, tapi menancap dalam. Di tengah roda koper yang tinggal satu, justru ada pengingat tentang bagaimana bersikap lentur dan  tidak memaksakan bentuk saat dunia tak memberi ruang.

 

Kadang, yang kita butuhkan bukan kekuatan yang menggelegar, tapi kelembutan hati untuk menerima bahwa tidak semua harus lurus. Untuk berjalan pelan meski tidak lengkap karena terkadang lekukannya justru membuat perjalanan jadi lebih manusiawi.

 

“True strength often hides in softness, the kind that bends with life instead of resisting it.”

Part 48.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!