0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Some things reach their best only through the rhythm of patience.”

 

Saya menatap daun-daun tembakau kering yang perlahan bergoyang, memantulkan cahaya keemasan siang yang makin meninggi. Ada sesuatu yang tenang dalam gerakannya, seperti ada kesabaran yang terajut.

 

Tidak terburu-buru dan tidak dipaksakan, hanya dibiarkan kering oleh angin, perlahan, sampai tiba waktunya.

 

“It’s funny, mama,” ujar Sophie pelan sembari matanya mengikuti daun-daun yang berputar ringan di udara. “They just let the wind do the job. No rush, just time and air.”

 

Ibu itu menatap kami, seolah mengerti meski tak sepenuhnya menangkap arti kata-kata Sophie. “Biasane digantung rong sampe telung minggu, nduk, nganti bener-bener garing.”

 

Kami kembali diam, membiarkan angin yang menelusuri sela-sela daun  tembakau kering dan membawa suara halus bambu yang saling beradu.

 

Dalam keheningan itu, saya menyadari bahwa banyak hal dalam hidup tak jauh berbeda dengan tembakau krosok.

 

Tidak semua harus diselesaikan dengan tergesa-gesa dan tidak semua membutuhkan panas untuk menjadi sempurna. Ada hal-hal yang cukup dirawat dengan kesabaran, diberi ruang dan hembusan waktu.

 

“Nature moves at its own rhythm and that’s enough.”

Part 45.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!