0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Stillness is not simply waiting. It is a quiet readiness and keeping balance until the moment calls us to move.”

 

Di bibir pantai, banana boat yang masih diam menunggu kapal bermesin menariknya. Warna biru dan kuningnya yang mencolok seolah ingin berbicara, tapi diamnya tetap menahan diri, tenang dan sabar.

 

Chris menepuk bahu saya ringan. Di sekeliling kami, udara subuh masih dingin, aroma asin laut menyelimuti dan ombak kecil terus memecah di tepi pantai. “You know, it’s tempting to just wait for someone else to move us, isn’t it?”

 

Saya mengangguk pelan. “Yes, but waiting doesn’t mean stopping. Even while it’s still, it’s ready. It keeps its balance, rides the small waves and when the pull comes… whoosh, off it goes.”

 

Tangan saya bergerak seolah membimbing banana boat meluncur di atas air. Chris tersenyum dan saya menatap banana boat lagi. Kali ini saya melihatnya berbeda.

 

Banana boat itu tidak hanya diam menunggu. Ia tetap menjaga keseimbangan, mengikuti ritme laut dan siap meluncur saat tarikan datang menjemput. Begitu pula kita,tidak harus selalu mendorong sendiri, tapi juga tidak boleh pasif.

 

Kemampuan untuk tetap waspada, siap menghadapi  setiap kesempatan dan membaca tanda-tanda di sekitar menjadi bagian penting dari perjalanan.

 

Ombak pagi kini menyapu kaki kami, seakan mengulang pelajaran itu dengan ritme lembutnya. Kadang langkah yang berarti bukan hanya yang penuh tenaga, tapi juga yang sadar, waspada dan siap ketika kesempatan mengetuk.

“Being still doesn’t mean doing nothing. Even in quiet, we stay ready for the moment that moves us.”

Part 15.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!