“When someone chooses not to take advantage, the whole moment feels a little lighter.”
Mata Mbak Patsy membulat dan berkilat sebentar lalu ia tertawa dengan caranya yang selalu saya ingat, lepas dan tanpa beban. Tawa itu menggema ringan di antara hiruk pikuk pasar malam.
Di atas kami, langit malam terbentang luas dan bintang muncul malu-malu di sela awan tipis. Lampu neon dari kios makanan memantulkan warna pink, biru dan kuning yang menari di udara.
Aroma sate serangga dan mie pangsit naik bersama asap tipis yang perlahan larut ke langit yang gelap. Di sela itu, wangi gula caramel dari kue chui kao so yang baru dibalik ikut membumbung ke udara.
Di tengah riuh penjual makanan dan sorakan anak-anak yang mengejar balon, justru penjual accessories kecil ini terasa seperti catatan kaki yang tiba-tiba menjadi inti cerita.
Tidak ada panggilan keras dan tidak ada gimmick, hanya prinsip sederhana yang tidak goyah.Semua itu terasa seperti satu narasi yang menulis dirinya sendiri namun tidak akan terlihat jika seseorang hanya memandang dari jauh.
Ia membawa dagangan yang tidak serupa dengan kios-kios lain, tetapi tidak sekalipun menjadikan keunikannya sebagai alasan untuk memberikan harga yang tidak masuk akal.
Ada ketenangan dalam caranya menawarkan dan kejujuran dalam nada suaranya, seolah ia tahu bahwa rezeki tidak perlu dipaksa dan kesempatan tidak harus dipelintir.
“Being different means nothing until you choose what to do with that difference.”
Part 32.

