Tahun 2016 lalu, Japan Airlines (JAL) mengumumkan niatnya untuk mengubah pakaian bekas menjadi bahan bakar jet. Itu merupakan langkah besar yang dilakukan JAL bekerja sama dengan perusahaan lingkungan dan para pelaku retail untuk mencari solusi sumber energi alternatif yang akan diuji pada tahun 2020 mendatang.
Daur ulang memang merupakan cara yang baik untuk mengurangi sampah. Industri fesyen dan tekstil pun dinyatakan sebagai industri paling tercemar terbesar kedua setelah minyak dan gas. Adanya ide mengolah pakaian bekas tentunya menjadi alternatif yang baik untuk menciptakan fungsi baru dari barang yang sudah tidak terpakai daripada menumpuknya menjadi sampah.
Japan Airlines Bekerja Sama dengan Jeplan
Untuk merealisasikan rencananya, JAL bekerja sama dengan Jeplan (Perencanaan Lingkungan Jepang) dan Green Earth Institute yang berbasis di Tokyo. Mereka mendirikan sebuah dewan kolaboratif untuk proyek yang dibuat awal tahun 2017 lalu itu.
Perihal proses daur ulang pakaian bekas, Jeplan telah bekerja sama dengan 12 pelaku retail seperti Aeon dan Muji Operator Ryohin Keikaku. Dengan bergotong royong mereka mengumpulkan bahan baku berupa pakaian bekas di 1.000 atau lebih toko di seluruh Jepang sebagai bahan bakar daur ulang poliester. Mereka bahkan mendapat bantuan teknologi dari GEI yang mampu mengubah kapas sebagai bahan baku pakaian menjadi bahan bakar juga.
Berdasarkan laporan nikkei.com, GEI didirikan untuk membangun teknologi biofuel yang dikembangkan oleh pemerintah. Teknologi tersebut juga mendapat dukungan dari Institut Penelitian Teknologi Inovatif bagi Bumi untuk penggunaan praktis. Metode ini menggunakan mikroorganisme untuk mengolah gula yang terkandung dalam kapas untuk kemudian diubah menjadi alkohol dan hasilnya terciptalah bahan bakar.
Rencananya akan dibuat tanaman bahan bakar eksperimental di pabrik Jeplan dan tes penerbangan menggunakan bahan bakar campuran konvensional dan yang berasal dari kapas akan dimulai pada tahun 2020. Sementara, produksi komersial akan dibangun dan dijalankan pada 2030 mendatang.
Japan Airlines Siapkan Bahan Bakar Hasil Daur Ulang
Kapas sebanyak seratus ton dapat menghasilkan 10 kiloliter bahan bakar. Meskipun semua kapas yang dikonsumsi secara keseluruhan di Jepang digunakan dalam produksi bahan bakar, hasilnya hanya akan mencapai angka sekitar 70.000 kl atau lebih saja. Angka tersebut kurang dari 1% penggunaan bahan bakar jet Jepang.
Namun, canggihnya teknologi GEI tidak hanya dapat memproses kapas saja, tapi juga dapat memproses limbah dari pabrik kertas dan fasilitas lainnya. Perusahaan hanya melihat pakaian sebagai awal dari upaya konversi limbah secara luas saja.
Bahan bakar yang terbuat dari sumber organik seperti kapas tidak jua menjamin bebas karbon dioksida pada tahap penyulingannya. Akan tetapi, bahan bakar tersebut mampu mengurangi emisi CO2 setengah dari produksi bahan bakar fosil. Metode ini ampuh untuk mengurangi polusi.
Bahkan walau hanya sebagian, mengganti bahan bakar jet konvensional dengan biofuel akan memberi dampak besar dengan mengecilkan emisi yang berhubungan dengan perjalanan udara. Ini merupakan salah satu upaya global untuk memerangi perubahan iklim yang sudah semakin meresahkan warga bumi.
Tak sampai di situ, upaya lain juga terus dilakukan untuk mengubah sampah kota menjadi bahan bakar. Tujuannya adalah untuk membuat pasokan yang stabil dari bahan bakar alternatif dengan harga yang menyaingi produk minyak bumi.
Upaya ini tentunya sangat baik untuk lingkungan karena dampak yang dihasilkan adalah mengurangi polusi lingkungan. Sudah selayaknya bagi kita untuk selalu merawat bumi agar kelangsungan hidupnya terus terjaga. Semakin canggih teknologi seharusnya semakin memudahkan kita untuk menciptakan inovasi baru yang tidak menyakiti lingkungan. Japan Airlines telah memberi contohnya.



