0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Balance is not holding on too tight, nor letting go too easily.”

 

Matahari sudah condong dan sinarnya makin terik ketika seorang perempuan berjalan mendekat. Wajahnya teduh, mata bulat, kulitnya kecokelatan oleh terik dan rambutnya diikat dengan sederhana.

 

Ia memberi salam singkat lalu duduk tak jauh dari kami, membawa map berisi kertas-kertas yang kemudian diserahkan kepada saya untuk diisi dan ditandatangani oleh Nigel dan Sophie.

 

“I’m helping him,” katanya sambil menunjuk ke arah instructor asal Perancis yang ikut tersenyum, “just assisting with the schedules. But I am local, born not far from here.”

 

Senyumnya hangat, lalu ia menambahkan kini dalam bahasa Indonesia karena bossnya  beranjak sebentar. “Pantai dan laut sudah seperti bagian dari hidup saya sejak kecil.”

 

Saya mengangguk. “Jadi keluarganya juga bekerja di laut?” “Bapak saya bekerja menjahit layar perahu phinisi.” Saya terdiam sejenak dan terbayang bentangan layar putih yang megah menangkap angin di laut luas. Ia tersenyum kecil, seolah mengenang sesuatu.

 

“Bapak saya selalu bilang, layar harus dijahit dengan sabar. Kalau tergesa-gesa, benangnya mudah putus. Tapi kalau terlalu kencang, kainnya bisa robek saat kena angin besar.” ujarnya seperti mengingat pesan ayahnya sendiri.

 

Saya membiarkan kata-kata itu melekat. Seperti layar yang dijahit dengan tepat, hidup pun butuh keseimbangan. Tidak terlalu terburu-buru dan tidak terlalu kendur, supaya saat angin datang, kita tetap bisa melaju tanpa terkoyak.

 

“Balance is found in the quiet moments between effort and stillness.”

Part 27.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!