0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“To walk beside without pulling ahead is love in its quietest form.”

 

Sophie kini berlari ke arah ayunan yang talinya terbuat dari rantai besi. Kaus pink lengan panjangnya tersapu angin dan rambut cokelat keemasannya melambai riang mengikuti langkah kecilnya yang ringan.

 

Ia duduk tanpa ragu, lalu mulai mengayun perlahan. Gerakannya semakin kuat, dan tubuh mungilnya pun terangkat, menyapu udara dengan tawa yang lepas.

 

Dari kejauhan, saya bisa melihat wajahnya menengadah ke langit, seolah sedang berbicara dengan cahaya yang turun lembut dari celah dedaunan. Sementara itu, Chloe duduk diam di bawah pohon.

 

Ia memperhatikan adiknya sebentar, lalu kembali menunduk, memunguti daun-daun kering yang gugur di sekitarnya. Satu per satu ia susun dalam barisan acak, seperti sedang melukis dengan daun sebagai kuasnya.

 

Tangannya terus bergerak, tapi matanya sesekali melirik ke arah Sophie yang tertawa dari ketinggian. Ia belum beranjak. Tampak ada keinginan untuk mencoba, namun masih ragu.

 

Sophie melambatkan ayunannya dan memanggil pelan, “Come on, zus Chloe! It’s fun, really! Just sit and swing a bit!” Chloe hanya membalas dengan senyum kecil, tapi  itu bukan penolakan. Hanya jeda untuk sebuah ruang yang sedang belajar percaya.

 

Sophie pagi itu mengingatkan saya bahwa menemani tanpa mendesak adalah wujud kasih yang sangat lembut.

 

“The softest kind of love is the one that waits without asking when.”

Part 2.

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!