“Do the great things while they are still small.” Lao Tzu
Setelah beberapa menit beristirahat, saya dan Mbak Patsy kembali berdiri. Kami melangkah perlahan menyusuri jalan ditemani cahaya lembut dari gerobak dan kios makanan yang berjajar seperti barisan cerita yang menunggu digarap ulang.
Belokan kecil membawa kami pada sebuah sudut gerobak berisi aneka dessert. Strawberry segar memantulkan cahaya, mangga berwarna kuning tersusun seperti potongan matahari dan oreo crumbs menambah contrast yang manis.
Di tengahnya, vanilla ice cream menyatukan warna-warna itu seperti cat air yang melebur di atas canvas. Di puncak tumpukan buah, anggur memberi sentuhan ungu yang tenang, seakan menunggu tangan yang memilih.
Di samping kami, seorang pengunjung mengangkat cameranya. Ia memotret satu cup ice cream yang tampak begitu anggun dengan tumpukan buah yang merekah dengan warna sempurna hingga saya mengira itu dummy ice cream.
Saya tersenyum kecil saat melihat penjualnya bekerja. Dari gerobak dengan lampu seadanya, ia menghadirkan sesuatu yang mengingatkan saya pada gelateria di Italy. Terlihat elegant karena sentuhan kecil yang ia berikan.
Penjual itu seolah membawa sedikit jiwa seni di ujung jarinya. Dari cara ia merapikan buah hingga menaburkan topping, terlihat bahwa keindahan di situ bukan soal tempat.
Keindahan muncul ketika seseorang memberi hatinya pada apa yang ia lakukan, bahkan pada hal yang tampak sederhana. Seni tidak selalu membutuhkan panggung besar, cukup kesungguhan kecil yang dikerjakan dengan setitik cinta.
“Great things are done by a series of small things brought together.” Vincent van Gogh
Part 40.

