“We are all visitors to this time, this place. We are just passing through.” Australian Aboriginal proverb
Sophie menatap kembali ke arah lampu kuning lalu menyesap teanya secara perlahan. Asapnya menari di udara dan membentuk garis tipis yang sebentar hilang lalu muncul kembali.
Saya memperhatikan wajahnya, lalu berkata hampir tanpa suara, “Maybe that’s what it means, to belong. Not to stay, but to walk each other home, little by little.”
Sophie mengangkat wajahnya, seolah mencoba memahami, lalu tersenyum kecil. “So home is not a place?” tanyanya perlahan.
Saya diam sebentar sembari mendengar bunyi ombak yang datang dari kejauhan. “Rumah, kadang bukan rumah atau kota, tapi rasa tenang yang muncul ketika kita diterima, bahkan tanpa perlu banyak bicara.”
Lampu dengan cahaya kuning di atas meja bergoyang pelan tertiup angin. Di sisi lain, perempuan Prancis itu masih memotong buah naga, sementara dua pemuda tadi kini membantu membersihkan meja.
Semua tampak seperti satu adegan sederhana, namun ada sesuatu yang halus di dalamnya. Seperti saat yang hanya lewat sekejap, tapi meninggalkan gema lembut sebelum lenyap bersama waktu.
Orang-orang yang awalnya tak saling mengenal datang, berbagi tawa, lalu perlahan menghilang. Namun kehadiran teman baru tersebut tetap terasa, seperti sisa cahaya yang bertahan sesaat lebih lama dari matahari yang sudah tenggelam.
“All that we see or seem is but a dream within a dream.” — Edgar Allan Poe
Part 11.

