“Peace is like a gentle whisper in the soul, always there if we listen”
Saat matahari mulai meninggi, melemparkan cahaya keemasan yang hangat ke seluruh penjuru pagi, Sophie perlahan bangkit, meregangkan tubuh mungilnya. Saya mengikuti arah pandangannya ke sudut kecil yang sebentar lagi akan kami tinggalkan.
Tenda sederhana itu masih menyisakan jejak aroma serai dan pandan yang melayang pelan di udara, seolah enggan pergi terlebih dahulu. “Mama,” ucapnya lembut, “saya belum mau pergi.” Kalimat itu menggantung di antara kami seperti embun yang belum sempat menguap.
Saya tersenyum lembut, menggenggam tangannya yang mulai hangat terkena sinar matahari. “Nanti sore, setelah pulang dari BITEC, kita cari tempat lain. Duduk lagi dan menikmati segelas Thai tea seperti tadi.”
Ia menatap saya lama, seperti sedang menyimpan kata-kata itu di dalam kantong kecil di hatinya. “But… will it still feel this peaceful later?” Saya membelai rambutnya yang mulai berantakan karena angin pagi.
“Sophie sayang, peace isn’t really about a place. It’s something we carry inside us, like a song only the heart can hear.” Saya menunjuk lembut ke dadanya.Ia mengangguk perlahan.
“So… we can take that feeling with us, wherever we go?” Saya mengeratkan genggaman kami. “Iya, sayang. That peace is already part of you. Wherever you go, as long as your heart stays kind, that calm feeling will always tag along.”
Sophie tersenyum pelan, seperti mengerti meski belum sepenuhnya paham. Angin pagi kembali berhembus, membawa sisa aroma pandan dan serai, dan langkah kecil kami pun perlahan menjauh dari tenda itu.
“Peace doesn’t live in places, it travels with the heart, like a quiet song you hum inside.”
Part 7.

