“There are trades made with words and trades made with quiet kindness, the latter always holds more worth.”
Mata ibu tua itu masih terpaku pada tumpukan tas kain perca yang kini sudah berpindah ke tangan dua assistantnya. Dengan tenang, ia membuka dompet tebal dari tas kulitnya, menghitung lembaran uang tanpa banyak bicara.
“How much for all of these?” tanyanya pelan. Mbak Patsy menyebutkan harga pembuka dengan nada ringan dan siap mendengar kalimat tawar-menawar yang biasanya mengiringi setiap transaksi, bahkan di pameran International sebesar ini.
Translator Mbak Patsy segera menerangkan dan ibu itu hanya mengangguk. “Baik,” katanya singkat, lalu menyerahkan uangnya, tanpa sedikit pun niat untuk menawar.
Mbak Patsy sempat tertegun sejenak. Ia tahu, dibelahan mana pun di dunia, apalagi bagi para wanita dan sebagai pembeli pertama, menawar bukan sekadar kebiasaan, tapi hampir seperti bagian dari percakapan sehari-hari.
Ada irama di dalamnya, seolah dua orang saling menari di antara harga dan rasa. Tapi kali ini, tak ada tarikan dan dorongan, hanya keheningan yang lembut dan keputusan yang penuh ketegasan.
Kedua staff ibu tua itu masih menoleh, matanya seolah berharap ibu yang tadi berubah pikiran. Namun ia sudah bersiap juga membayar satu tas kain perca yang sempat diselamatkannya sebelum diambil semua.
“Ibu yang satunya buru-buru membayar, takut semua diborong oleh ibu sultan yang belanja tanpa menawar, Mbak Sarah.” “Iya, Mbak Pats, pembeli itu raja dan raja kalau belanja tidak menawar.” Kami pun saling bertukar senyum.
“The way we spend reflects the value we place on things and on people.”
Part 10.

