0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“There’s a kind of tired that sleep can’t fix, the kind that comes from never being fully allowed to rest”

 

Langit di luar jendela berwarna biru sapphire dan awan bergeser perlahan, seolah menyusuri udara dengan bisikan lembut.  Cahaya pagi mulai merayap masuk ke dalam cabin, menyentuh kursi-kursi yang sebelumnya tersembunyi dalam kelamnya malam.

 

Wajah-wajah yang semula terbenam dalam tidur kini perlahan bangun, sebagian dengan mata sembab, sebagian lain dengan tatapan kosong yang belum sepenuhnya terbangun.

 

Wanita di sebelah saya melanjutkan ucapannya, “Kadang saya merasa iri,” katanya pelan, hampir seperti bicara kepada dirinya sendiri. “Orang-orang bisa tidur nyenyak di pesawat. Saya sudah mencoba memejamkan mata sejak tadi, tapi tetap tidak bisa benar-benar tertidur.”

 

Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya, senyumnya muncul, walaupun tipis sekali. Senyumnya mengingatkan saya pada kelopak bunga yang hanya mekar seolah ragu pada sinar matahari yang terlalu cepat datang.

 

Saya hanya mendengarkan, sambil perlahan membuka mata lebih lebar, walau rasa kantuk masih menggantung. Ada sesuatu dalam kalimatnya yang tinggal begitu saja di udara, seperti luka lama yang tak lagi terasa, tapi masih tahu caranya mengetuk dari dalam.

 

Pelajaran pagi itu sederhana. Kadang, bukan karena tubuh tidak lelah, tapi karena hati tak pernah merasa tenang sehingga tidur pun terasa seperti kemewahan . Bukan karena waktu yang sempit, tetapi karena ruang dalam diri yang terlalu lama terjaga.

 

Pesawat mulai menurun perlahan dan lampu sabuk pengaman menyala. Tapi di kursi kami, ada sesuatu yang telah lebih dulu mendarat, kejujuran kecil yang tak butuh landasan, hanya butuh ruang.

 

“Sleep is not just a matter of time. It’s a kind of peace, and not everyone knows where to find it.”

Part 3.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!