“Surrender is a gentle form of strength.”
Di dalam pesawat menuju Bandar Seri Begawan, saya berada di deretan kursi yang terlihat kosong.
Dua kursi di baris yang sama tidak terisi dan tanpa banyak berpikir, saya bergeser ke tengah.
Di kiri dan kanan, hanya ruang yang lengang. Tidak ada tas dan tidak ada orang, hanya jarak yang terasa lebih luas dari biasanya.
Biasanya saya memilih sisi lorong dan kadang memulai percakapan kecil dengan orang di sebelah. Senyum, sapaan singkat lalu cerita ringan yang menemani perjalanan. Namun kali ini, semuanya dibiarkan diam.
Sebelum pesawat lepas landas, doa safar tersebut sempat terlantun. Kata-katanya singkat namun cukup untuk mengingatkan bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang bergerak tetapi tentang berserah.
Saya duduk tanpa perlu mengisi ruang itu dengan apa pun. Dalam diam yang panjang, justru terasa ada ketenangan yang perlahan menetap.
Seperti diingatkan bahwa saat kita benar-benar berserah, kita tidak sedang kehilangan pegangan. Justru di situlah kita disadarkan bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri.
“Surrender opens a space for calm to enter.”
Part 3.

