“Water can flow or it can crash. Be water, my friend.” Bruce Lee
Matahari makin tinggi dan panasnya menekan udara hingga setiap tarikan napas terasa lebih berat. Chloe mengipas wajahnya dengan selembar karton yang sempat dipinjam, sementara suara ombak tetap jadi latar yang setia.
Instructor itu menutup botol airnya, lalu menoleh pada kami dengan senyum tenang. “You see,” katanya sambil menunjuk ke laut, “when you are underwater, you cannot fight the current.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “The harder you resist, the more air you waste. The best way is to follow its flow, let it carry you until you find your balance again.
Saya membiarkan kata-kata itu larut bersama deburan ombak yang datang dan pergi. Dalam hati saya berbisik, bukankah hidup pun demikian. Semakin kita melawan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, semakin lelah kita dibuatnya.
Ada saatnya kita hanya perlu memberi ruang dan membiarkan arus membawa kita sejenak sampai tenaga kembali dan arah terasa jelas.
Saya menatap ke laut yang tak henti berubah warna dari biru tua ke hijau terang. Ada ketenangan yang berbeda ketika menyadari bahwa tidak semua hal harus dilawan.
Seperti laut yang tidak melawan arus, hidup pun sesekali mengingatkan kita bahwa bertahan tidak selalu berarti melawan. Ada saat di mana mengikuti aliran justru menjadi jalan untuk menemukan kembali kekuatan.
“Letting the current guide you often takes you further than fighting against it ever will.”
Part 25.

