“Not everyone begins with kindness, but sometimes, all they need is a little space to find their way there.”
Pria di samping booth terus tersenyum saat Chloe kembali dengan Thai tea bersama Mbak Patsy. Di tengah keramaian, ia bahkan mulai berbincang singkat. Saat melewati boothnya, Chloe melirik sekilas, matanya menangkap perubahan itu sebelum melanjutkan langkah kembali ke tempat kami.
Saya mengamati Chloe yang kini duduk di kursi lipat , kakinya bergoyang pelan, jemarinya melingkari gelas Thai tea yang mulai berembun. Matanya mengikuti pergerakan orang-orang yang meramaikan booth pria itu, sesekali melirik ke arah saya dengan senyum kecil.
Senyumnya seakan berkata, “Lihat, kadang memberi ruang justru membuat segalanya lebih baik.” Saya mengangguk kecil. Dunia bukan selalu tentang saling membalas, disaat seseorang melempar jab dan hook, bukan berarti kita harus membalas dengan uppercut seperti di ring tinju.
Chloe menghela napas pelan, lalu berbisik, seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Dulu saya pikir kalau ada yang jahat sama kita, kita harus jahat kembali…” Saya tersenyum, menepuk lembut punggung tangannya. “Tapi sekarang?”
Ia mengangkat bahu, menatap Thai tea di tangannya seolah mencari jawaban. “I guess… people aren’t always mean on purpose. Maybe they just need a little space to be nice.”
Angin sore berembus lembut, membawa aroma makanan dari berbagai penjuru venue. Saya melirik ke arah pria itu. Wajah yang tadi penuh ketegangan kini terlihat lebih tenang. Ia masih sibuk melayani pembeli, tapi kali ini, dengan senyum yang terus mengalir.
Chloe kembali menyesap Thai tea-nya. Kali ini dengan tatapan yang lebih hangat. Hari ini, saya belajar lagi bahwa dunia ini lebih luas dari sekadar menang dan kalah. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah sedikit kelapangan hati, bukan untuk orang lain saja, tapi juga untuk diri sendiri.
“People aren’t always what they seem. Sometimes, all they need is a chance to show they’re more than just a bad first impression.”
Part 29.

