“We do not remember days, we remember moments.” Cesare Pavese
Saya melirik Sophie yang masih menggenggam bunga kangkung lautnya sambil terus melangkah. Dari belakang terdengar langkah Chloe, Nigel dan Chris yang larut dalam obrolan entah apa, tapi suara tawa Chloe yang riang mengalun jelas.
Kami tiba di villa kayu dua lantai itu, berdiri sederhana namun tenang menghadap laut. Walau tidak tepat di bibir pantai, aroma asin tetap menempel di udara, bercampur dengan gema debur ombak yang sampai juga ke telinga.
Dari luar tampak biasa saja, tapi ada hangat yang samar menyelinap dari kesederhanaannya. Setiap lantai punya AC yang berderu lembut, menjaga kesejukan meski angin laut sendiri sudah terasa menenangkan.
Di lantai dua ada dapur kecil dengan jendela yang terbuka lebar ke arah jalan setapak, membawa masuk aroma asin yang tajam bercampur dengan wangi kayu tua yang lembap.
Sophie berlari kecil begitu masuk, lalu berhenti di ruang bawah dan menatap sekeliling, seperti ingin memastikan bahwa tempat ini bisa menjadi rumah singgah kami untuk beberapa hari ke depan.
Bunga ungu kecilnya masih ia genggam, sebelum akhirnya diletakkan di meja kayu sederhana di samping tempat tidurnya, seakan memberi tanda bahwa ia pun ikut hadir di ruang itu.
Sama seperti bunga yang cepat layu di tangan Sophie, villa sederhana ini mungkin hanya menjadi persinggahan singkat dalam perjalanan kami, namun jejaknya bisa menetap jauh lebih lama dari waktunya.
“Forever is composed of nows.” – Emily Dickinson
Part 10.

