“Time is free, but it’s priceless. You can’t own it, but you can use it. You can’t keep it, but you can spend it. Once you’ve lost it, you can never get it back.”
Harvey Mackay
Disaat saya keluar kelas bersama Rosie untuk tea break, waktu sudah menunjukkan pukul 14.45 ketika melihat jam ditangan . Dari tempat kami duduk terlihat cakrawala yang berwarna biru dengan angin sejuk yang berhembus cukup kuat menerpa wajah, anginnya sungguh sepoi-sepoi.
Mentari bersinar dengan teriknya sehingga menghasilkan siluet yang sempurna dari bayangan pepohonan yang rindang, menambah syahdu suasana sore itu. Tiba-tiba suara bariton yang tidak asing terdengar di telinga dan Vin Diesel versi caramel macchiato telah muncul di depan mata. Saya terkejut dan mendelik bingung ke arah Jos, “Lho kamu kenapa ada di sini? Padahal kita tidak ada janji untuk bertemu hari ini.”
“Bula, Tiny. Hanya untuk mengingatkan kamu kembali, saya adalah guide kamu selama di sini. Misi saya adalah untuk menunjukkan cara berbahagia ala Fijian setiap hari”, Jos membungkukkan sedikit dan mendekapkan tangannya ke dada dengan gaya yang sangat sopan sama seperti awal kami bertemu.
“Oh okay, tapi kelas saya baru akan selesai sekitar satu jam lagi. Ini hanya break time. Kamu tidak apa menunggu?” terperanjat akan sifatnya yang keras kepala, sangat identik dengan sifat saya.
“Tentu saja tidak apa, saya telah menunggu kehadiran kamu seumur hidup saya, apalah artinya 3600 detik”Jos mulai melancarkan kata-kata ibarat lagu rayuan pulau kelapa.
Memegang kursi dan seakan mau jatuh, saya menangkis sweet talk-nya “Jos, Is there an airport nearby or is that my heart taking off?”
“Kamu masuklah ke kelas , jangan sampai telat dan membiarkan guru menunggu. I will be waiting here for you with all my circle.” Jos kembali menjawab dengan tatapan yang dalam disertai intonasi yang penuh perhatian.
“Bukannya with all your heart?” membalasnya dengan tatapan iseng.
“Oh Tiny, hati bisa patah dan hancur berkeping-keping, sedangkan cirle will never ending. Bahkan sampai tubuh ini menjadi fosil pun, saya akan tetap menunggu kamu” Jos dengan boyish look-nya yang sangat khas lanjut menyeruput minumannya dengan santai.
“Oh gosh, saya butuh earmuff, kalian berdua betul-betul gombal akut. Ayo kita masuk ke kelas, Sarah”, Rosie tertawa terbahak dan menutup kedua telinga dengan tangannya.
Setelah kelas selesai, saya dan Jos beranjak pergi dan tiba di pasar tradisional yang tampak sepi karena hari sudah sore dan Jos lalu memesan dua porsi rujak ala Fiji. Rujaknya agak berbeda karena menggunakan bahan rumput laut jenis sea grape, berbentuk bulat-bulat kecil dan sausnya terbuat dari saus kelapa muda dicampur dengan garam dan cabai.
Saya tidak sabar, lalu mencoleknya sedikit dengan jari telunjuk dan langsung mengeryitkan kening karena rasanya yang asam.
“Tiny, jangan makan sambil berdiri, selain tidak sopan makanan itu akan terasa lebih enak kalau dinikmati, ingat it’s a journey not a destination”, jelas Jos dengan nada sabar.
Kami pun berjalan ke salah sudut pasar dan duduk di bangku kayu sederhana. “Tiny, banyak orang melakukan makan sebagai proses multitasking bahkan terburu-buru. Contohnya seperti yang kamu lakukan tadi sambil berdiri. Coba amati teksturnya, hirup aromanya” Jos menghirup dalam-dalam aroma rujak dengan mata terpejam.
“Rasakan dan bayangkan apa yang masuk dan menyentuh lidah kamu dalam satu gigitan. Ingat, jangan bayangkan wajah saya yang menggemaskan karena nanti malah tidak bisa tidur.” Jos tersenyum lebar memperlihatkan sederet gigi yang bagaikan mutiara yang terpahat rapi.
Saya yang tadinya serius mendengarkan langsung tertawa cekikikan “Mirip acara televisi yah kamu, ditengah acara ada iklan. Sempat-sempatnya kamu memuji diri sendiri dan itu sudah termasuk iklan.”
“Nah sekarang lanjutkan dengan mengikuti indra ke enam yaitu indra living in the moment atau indra kesadaran”, kata Jos meneruskan tanpa peduli saya protes.
“Memang betul, disaat makan setiap hembusan nafas dan perhatian saya tidak pernah berada di dentuman irama yang sama. Oh wait, disaat saya melihat sunset, saya sudah menikmatinya seperti yang kamu ajarkan kemarin.” mencoba menerangkan dan merangkai setiap puzzle kejadian.
“Yep, my Destiny. Lakukanlah proses makan seperti kamu menikmati sunset kemarin. Bukankah keindahan sunset akan semakin terasa disaat kamu tidak terburu-buru ?”Jos kembali menatap dengan pandangan yang mampu meluluhlantakkan hati yang sekuat baja sekali pun.
Kali ini saya tersenyum manis sekali karena disaat saya mencoba menikmati rujak ala Fiji tersebut, ada sensasi lain di balik rasanya yang asam. #ikutan iklan
Pepatah tentang waktu,
“Jika wanita sudah berkata “Sebentar, 5 menit lagi” kalian bisa gunakan waktu 5 menit tersebut untuk menguras bak mandi pakai kulit kuaci, menghitung biji beras lima karung dan pergi menyelamatkan dunia.”
https://www.sarahbeekmans.co.id/happiness-journey-not-destination/ part 1
https://www.sarahbeekmans.co.id/live-every-moment/ part 2



Trackbacks/Pingbacks