0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“When nothing makes sense, warmth quietly becomes the translator.”

 

Saya dan mbak Patsy akhirnya tiba di toko dengan pintu yang lebar  seperti menyambut siapa saja yang lewat.  Di depannya berjejer jeruk, apel, anggur dan aneka buah tropis yang warnanya seolah baru disentuh embun pagi.

 

Tidak ada harga yang tertulis, hanya ada senyum ramah dan timbangan tua. Setiap kali ingin membeli sesuatu, percakapan berubah menjadi pertemuan dua dunia yang sama-sama mendengar namun tidak benar benar saling mengerti.

 

Saya bertanya dengan bahasa Indonesia, “Ini berapa, Bu?” Penjual itu menjawab panjang lebar dalam bahasa Mandarin yang mengalir cepat seperti arus sungai setelah hujan.

 

Saya mengangguk seperti orang yang paham sepenuhnya dan ia  juga mengangguk seolah kami sudah mencapai kesepakatan penting. Padahal tidak satu pun dari kami tahu apa yang sebenarnya sedang dibicarakan secara detail.

 

Bahasa Inggris akhirnya tidak berguna karena ia tetap menjawab dalam bahasa Mandarin. Saya dan Mbak Patsy pun menyerah dan menawar dengan bahasa Indonesia, seolah bahasa apa pun boleh dipakai asalkan niatnya jelas.

 

Pada akhirnya gerakan tangan, senyum kecil, angka yang muncul di calculator dan anggukan yang pelan menjadi jembatan paling setia antara bahasa Inggrisnya yang tersendat-sendat.

 

Ada rasa lucu yang samar di sana ketika dua pihak sama-sama tidak mengerti tetapi tetap ingin saling berkomunikasi. Kami pun membawa pulang aneka buah dan menutup pertemuan itu dengan tawa kecil dan senyum lembut dari  penjual.

 

“When the language fails, kindness usually steps forward to help.”

Part 18.

Bagikan ini:
error: Content is protected !!