0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“The heart remembers the storyteller, even when the story is long past.”

 

Bus terus melaju menyusuri lekuk jalan yang mulai disinari cahaya pagi. Kabut yang tadi menyelimuti perlahan terangkat, memberi ruang bagi gedung-gedung tinggi untuk menampakkan diri dengan malu-malu.

 

Di dalam bus, suara machine dan derik roda menjadi latar yang constant seperti irama halus yang menyulam waktu dengan tenang. Di samping, tawa dan percakapan dalam bahasa yang sangat saya  kenal terus mengalun dengan ramai.

 

Nada mereka naik turun seperti gelombang, kadang deras, kadang terhenti oleh tawa yang pecah di tengah kalimat. Saya tersenyum pelan, menikmati cara mereka bercerita.

 

Topicnya biasa saja, entah tentang oleh-oleh, kabar tetangga, atau menu masakan hari ini. Tapi cara mereka menyampaikannya membuat siapa pun yang mendengar jadi ingin ikut duduk dan menyimak hingga akhir.

 

Teringat bagaimana Chloe atau Sophie sering menggoda saya, “Mama, kalau bercerita, pasti ada sound effect-nya…” Lalu mereka menirukan saya membuka pintu sambil meniru suara derit, “sreet… kreeek…”, lengkap dengan tangan yang memutar kenop pintu imajiner.

 

Gerakan yang bagi mereka, itu sudah jadi ciri khas saya. Mungkin memang begitu cara sebagian besar orang Indonesia bercerita,bukan sekadar lewat kata, tapi juga dengan tubuh, nada, dan back sound yang ikut hidup di dalamnya.

 

Bus terus melaju di jalurnya, tapi pikiran saya melayang ke satu hal bahwa kadang, bukan isi cerita yang paling diingat, tapi cara seseorang bercerita yang membuat kita ikut merasa hadir.

 

“What lingers is not the tale itself, but the warmth in the way it was told.”

Part 19.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!