“Letting go is not forgetting. It is remembering without needing to hold on.”
Saya menatap drawing book Sophie. Di salah satu halaman, tergambar sebuah taman kecil dengan sebuah bangku kayu berdiri kokoh di bawah naungan pohon berdaun lebat. Di bangku itu, tampak seorang anak duduk sendiri, mengenakan gaun sederhana dengan pita pink di rambutnya.
Namun yang paling mencuri pandangan dalam gambar tersebut adalah sekuntum bunga di tepi jalan setapak. Kelopaknya setengah terbuka, digambar dengan goresan halus, seolah diwarnai dengan penuh perhatian.
Bunganya tidak besar, tapi hadirnya memberi nyawa pada seluruh gambar, seperti bisikan kecil yang berkata bahwa sesuatu yang lembut pun mampu memberi terang.
Rumput di sekitarnya digores dengan pencil hijau muda yang nyaris samar, dan matahari di sudut kertas masih bersembunyi separuh. Cahayanya menyentuh daun dan kelopak bunga dengan sentuhan tipis, seolah hanya ingin hadir tanpa mengganggu.
Gambar itu seolah menyimpan suara pelan dari moment yang telah lewat. Setiap garis dan warna bercerita, bukan tentang kehilangan, tapi tentang rasa yang pernah hadir di detik-detik saat segalanya masih berjalan dalam diam yang utuh.
Sophie menyentuh salah satu gambarnya dengan ujung jari. “Mama, ini yang saya gambar di hotel tadi pagi. Pencil-nya waktu itu belum hilang,” bisiknya pelan.
Saya mengangguk, lalu menggenggam tangannya. “Sophie sayang, kadang, hal-hal yang paling kita sayangi justru mengajarkan kita cara melepaskan, bukan dengan hati yang berat tapi dengan ketegaran yang lembut.”
“Even what we treasure most can gently teach us how to let go with love.”
Part 38.

