0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“A craft lasts when skill is guided by devotion.”

 

Chris masih menatap rangka kapal di atas kepala kami, lalu berkata pelan, “A ship like this is more than wood. It is memory shaped into form.”

 

Saya menerjemahkan ucapannya dan bapak tua itu mengangguk perlahan, dengan wajah yang masih seperti menyimpan ribuan cerita. Dari atas kapal, suara palu beradu dengan kayu terdengar ritmis, seakan jadi napas dari bengkel terbuka itu.

 

Ia menepuk ringan salah satu balok kayu di sampingnya. “Kapal ini memang dibuat lama, tapi kalau sudah selesai bisa bertahan puluhan tahun, Nak.” Saya menoleh padanya dan bertanya pelan, “Apa yang membuat kapal seperti ini bisa bertahan begitu lama?”

 

Bapak tua itu tersenyum tipis. “Bukan sembarang kayu yang dipakai. Lihat itu,” ia menunjuk ke lengkung kayu di lambung, “itu kayu bitti. Ia punya sifat melengkung alami, jadi bisa dibentuk mengikuti lambung kapal tanpa perlu banyak sambungan.”

 

Aroma kayu segar tercium samar dan bercampur dengan angin laut yang masuk dari celah terbuka.  Chris mengangkat alisnya dengan rasa kagum dan matanya berbinar lalu bergumam, “I’ve read about this, it’s all pegged wood, no nails.”

 

Saya menerjemahkan, dan bapak tua itu tertawa kecil. “Betul. Tidak ada paku. Semua disambung dengan teknik pasak kayu.” Bapak tua itu lalu menepuk bahu Chris, sorot matanya teduh. “Begitulah, Nak.”

 

Saya kembali menatap rangka kapal phinisi itu. Ia bukan sekadar susunan kayu, melainkan untaian harapan yang disulam dengan teknik dan ketekunan, menunggu saatnya berlayar untuk membawa cerita.

 

“Time honors what is made with both skills and heart.”

Part 50.

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!