“We are all just walking each other home.” — Ram Dass
Sophie menarik kursi dan duduk di dekat meja kayu itu. Di depannya masih ada sepiring kecil pasta, beberapa potong buah dan secangkir tea yang masih mengepulkan uap tipis.
Ia menatap lampu kuning yang menggantung lalu berbisik pelan, “It feels nice here, Mama. Like everyone just… belongs.” Saya menoleh dan memperhatikan rambutnya yang mulai kering tersapu angin.
Pandangan saya berkeliling, ke arah wajah-wajah asing yang tampak sangat akrab. Semua orang datang dengan ceritanya masing-masing, namun di sini, semuanya melebur, seperti aroma makanan yang menari di udara.
Di sudut lain, seorang perempuan dari Prancis sedang memotong buah naga, sementara dua pemuda dari Australia tertawa karena roti mereka gosong di sisi bawah.
Tak ada yang terganggu, bahkan derai tawa itu seolah menambah bumbu pada malam yang terasa hangat.
Malam turun perlahan, menyelimuti meja kayu itu dengan cahaya yang lembut. Dalam diam, saya berpikir, mungkin hidup juga seperti dapur terbuka ini.
Tempat di mana segala hal bisa hadir bersamaan, dari derai tawa, aroma makanan, kesalahan kecil hingga percakapan yang tak perlu arti besar. Mungkin kedamaian tidak datang dari bagaimana kita menata semuanya, tapi dari bagaimana kita membiarkan semuanya ada, apa adanya.
“The world softens when we stop drawing lines between mine and yours.”
Part 10.

