“Details create the big picture.” – Sanford I. Weill
Saya masih berdiri di bawah rangka kayu phinisi itu, suara bapak tua tadi masih terngiang di kepala saya tentang gading atau tulang rusuk kapal dan betapa pentingnya ia bagi tubuh kapal.
Saya mencoba mencerna pelan-pelan sebelum kembali bertanya, “Kalau begitu, Pak… setelah gading, apa lagi yang dikerjakan?” Rasa penasaran saya belum juga padam.
Bapak tua itu tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Kalau soal teknis lebih jauh, bisa tanya langsung sama boss. Dia yang punya usaha ini, lebih tahu detailnya. Biasanya dia datang setelah makan siang atau coba datang lagi sore.”
Saya sempat terdiam, kemudian menoleh ke arah Chris yang sejak tadi menyimak dengan penuh perhatian. Ia justru lebih dulu menyahut, matanya menelusuri rangka kayu di atas kepala kami.
“You know, even if we do not get all the technical steps today, what we already heard is important. A phinisi is not just a boat, it is a philosophy. Every part of it is like a story, nothing is random.”
Saya pun menerjemahkan kata-kata itu. Bapak tua itu tersenyum lebar, senyumnya semakin hangat seolah merasa dihargai. “Iya betul, Nak,” katanya singkat.
Percakapan tadi membuat saya ikut terdiam dan menyadari bahwa sebuah kapal tidak hanya dibangun untuk menyeberangi lautan, tetapi juga untuk menyeberangi waktu.
“Great things are not done by impulse, but by a series of small things brought together.” – Vincent van Gogh
Part 49.

