“Smile and the world smiles with you.” Ella Wheeler Wilcox
Melihat hampir semua orang mengangkat ponsel, saya akhirnya ikut mengambil ponsel yang tadi terletak di dalam laci.
Awalnya saya hanya mengambil satu photo namun kerumunan itu belum juga bergerak menjauh. Pria tersebut justru berhenti beberapa langkah di depan booth saya.
Orang-orang yang berada di belakang langsung merapat. Beberapa memanggil namanya. Yang lain mengangkat ponsel lebih tinggi lagi dan berusaha mendapatkan sudut pandang yang tidak terhalang kepala orang di depan.
Saya lalu mengganti camera menjadi facebook live. Bukan karena saya tahu siapa dia, melainkan karena rasa penasaran yang perlahan ikut muncul.
Ada begitu banyak orang yang rela berhenti dari aktivitas mereka hanya untuk melihatnya selama beberapa detik. Di layar ponsel, wajahnya akhirnya terlihat lebih jelas.
Ada yang tersenyum lebar bahkan teriak histeris. Ada pula yang tertawa tanpa henti hanya karena bisa melihatnya dari jarak dekat dan saya ikut tersenyum.
Anehnya, perhatian saya justru lebih tertuju pada orang-orang di sekelilingnya. Ada yang tersenyum lebar, berteriak histeris hingga yang tertawa berkali-kali hanya karena berhasil melihat pria tersebut dari jarak dekat.
Entah mengapa, melihat kegembiraan mereka membuat saya ikut tersenyum. Ternyata sebuah moment tidak selalu berharga karena siapa yang ada di dalamnya. Kadang karena arti yang dibawanya bagi orang lain.
“Sometimes we smile simply because someone else is smiling.”
Part 25.

