“Fame is often seen first in the eyes of others.”
Saya masuk ke dalam booth dan mulai membuka beberapa kotak terakhir yang masih berada di bawah meja.Tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah ujung lorong.
Awalnya saya mengira ada booth yang sedang memberikan harga promo sehingga pengunjung ramai berdatangan. Namun suara itu terus terdengar dari arah lorong.Semakin lama terdengar semakin dekat.
Saya mengangkat kepala. Orang-orang mulai bergerak ke satu sisi lorong. Beberapa berlarian kecil dan yang lain mengangkat ponsel setinggi mungkin. Bahkan ada yang berdiri berjinjit sambil mencoba melihat ke depan.
Dalam beberapa menit, lorong di depan booth saya berubah menjadi penuh sesak. Saya sempat memegang salah satu display ketika meja di depan ikut bergeser sedikit akibat dorongan kerumunan yang terus merapat.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan langkah yang tenang lewat di depan saya. Sulit melihat wajahnya dengan jelas karena hampir semua orang di sekelilingnya mengangkat ponsel setinggi mungkin.
Yang menarik perhatian saya justru bukan pria itu, melainkan orang-orang di sekelilingnya. Ponsel terangkat ke udara dari berbagai arah. Beberapa orang berusaha berjalan lebih cepat dan sebagian berdiri berjinjit.
Saya berdiri beberapa langkah dari lorong sambil memperhatikan semuanya. Entah siapa pria yang saat itu sedang lewat di depan booth, yang pasti dia orang yang terkenal.
“Sometimes a stranger’s importance is written not on their face but on the faces looking back at them.
Part 24.

