“People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.” Maya Angelou
Bus yang membawa saya akhirnya berhenti perlahan di halte Narita International Airport. Saat itu cahaya pagi merayap masuk melalui jendela dan melapisi kursi dengan warna keemasan yang tenang.
Saya turun dengan langkah yang masih menyimpan ritme hari-hari yang panjang setelah tiga hari penuh di Tokyo Big Sight menghadiri jewelry tradeshow.
Udara di airport bersih, mengingatkan saya pada halaman pertama buku gambar Chloe yang baru saja dibuka dan masih kosong.
Di counter check in, seorang wanita berseragam rapi menyambut dengan senyum tipis. Suaranya lembut dan perlahan, seperti kertas yang dibalik dengan hati-hati.
Ia menanyakan tujuan akhir setelah melihat ticket transit di Manila. Saya menjawab Indonesia. Ia mengangguk kecil lalu memproses semuanya dengan gerakan tenang dan presisi.
Saat passport dikembalikan, ia menunduk singkat. Gesture itu ringan namun terasa seperti pintu yang ditutup perlahan tanpa suara.
Di tempat sesibuk ini, bahkan perpisahan singkat diperlakukan dengan hormat, seakan setiap pertemuan pantas diakhiri dengan rapi. Seperti tanda titik yang tak lupa diletakkan di akhir kalimat.
“A well ended moment is not an accident but the echo of a presence that paid attention.”
Part 1.

