0062 8119985858 info@sarahbeekmans.co.id

“Words carry weight, but silence builds the foundation of understanding.”

 

Selesai melipat pakaian, kami tetap duduk sejenak di lantai basement. Michael menyapu remahan terakhir dari basboussa cake yang tadi kami nikmati, menatap tangannya seolah ada jawabannya di sana.

 

“Terkadang,” ia mulai lagi, “saya berpikir, apakah kita benar-benar mendengarkan, atau hanya menunggu giliran untuk berbicara?” Kata-katanya membuat saya terdiam sesaat.

 

“Michael, mungkin itu sebabnya keheningan terasa asing bagi banyak orang karena keheningan menuntut kita untuk mendengar, bukan hanya kepada orang lain, tapi juga kepada diri sendiri.”

 

Michael mengangguk, matanya kembali menerawang. “Di tempat asal saya, berbicara adalah bagian dari kebersamaan. Tapi di sini, saya belajar bahwa mendengar adalah bentuk perhatian yang sama berharganya. Yeah, what’s the word for it in your language? Anda bawel?” Ia tersenyum, sedikit bercanda.

 

Saya tertawa kecil. “Terkadang, saya memang suka bawel terutama ketika sedang antusias. Tapi, sebenarnya mendengar bukan hanya soal telinga, tapi juga hati agar kita bisa memahami apa yang tidak terucap.” Michael lalu menyela, “Anda bawel, also wise.” Dan kami pun terbahak bersama.

 

Ruangan basement itu seolah melingkupi kami dengan hikmah sederhana. Tak banyak kata yang perlu diucapkan lagi malam itu, karena justru dalam keheningan, pengertian yang lebih dalam hadir.

 

Keheningan, dalam segala kesunyian yang dibawanya, menjadi ruang untuk menemukan makna yang sering terlewatkan dalam kebisingan dunia. Sebuah pengingat bahwa mendengar, benar-benar mendengarkan, adalah hadiah yang sering terabaikan dalam keseharian kita.

 

“Silence isn’t empty. It’s the space where thoughts and feelings finally find their voice.”

Part 6.

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan ini:
error: Content is protected !!